June 30, 2011

Hi university!

Call me freak. But I'm in a very very good mood today.Seriously.
Just because I opened http://SNMPTN.ac.id official site last night.


 Yes people. I passed the SNMPTN exams (National exams for selection into public University). There were 540.953 participants throughout Indonesia. And only 119.041 could passed succesfully. 
WOWW!!! [Shocked]
 Being 1 of  participants-who-passed brighten my mood. I accepted in the second option (Fakultas Kedokteran - Jurusan ilmu kesehatan masyarakat - Universitas Andalas) of three options I choose. Actually I wanna be an english teacher (1st option). But nope, I must try what I have.
Thanks so much GOD!
 Alhamdulillah

click picture to enlarge

Hi university!
Next month will be busy...
hiks-hiks 

Today's Quote:
"Dear GOD. Eventhough I didn't get "Pendidikan Bahasa Inggris" as my study, I really wish this is the best choice. Amin" -Aul Howler-

June 27, 2011

Senja Yang Senja

Yay! My 3rd Short Story on Singgalang Newspaper.
wednesday edition, June 1 2011

It's gonna be a looong day.
Happy Reading! :)
<3


Senja Yang Senja
Oleh: Aul Howler



-->
            Aku adalah Senja. Dan aku adalah Senja yang senja. Nah, dahi mu jangan berkerut dulu, berusaha memahami apa yang baru saja kamu baca. Dengar dulu aku berkata-kata, barulah kamu boleh melakukan apa saja, termasuk bingung atau tersenyum atau tertawa atau mencela.
            Ya, Senja adalah nama yang diberikan almarhum orang tuaku untukku, putrinya yang paling bungsu. Nama lengkapku Dewi Nara Senja. Nama yang bagus bukan? Ibu memanggilku Dewi, sedangkan ayah memanggilku Senja.
Jujur saja, aku lebih senang dengan panggilan yang diberikan ayah. Menurutku, panggilan ‘Dewi’ terlalu feminim. Tidak cocok untukku yang senang memanjat pohon, berenang di sungai dan bermain layangan. Sedangkan ‘Senja’ terdengar lebih baik. Tidak begitu manis, tidak begitu ayu, dan lumayan sesuai dengan karakterku yang menurut teman-temanku – hampir semuanya laki-laki – sangat aneh. Aneh karena di waktu aku kecil dulu, sangat langka kejadiannya gadis berkepang dua hampir tak pernah pakai rok. Yah, aku memang tomboy, kau tahu.
            Tapi sumpah, aku juga merasa lebih senang dipanggil Dewi oleh ibuku, daripada panggilan yang diberikan teman-teman padaku. Mereka menyapaku dengan ‘Inja’. Menjijikkan sekali bila mereka mengolok-olok panggilanku dengan menambahkan huruf ‘T’ Sebelum ‘Inja’. Padahal aku tak pernah bau, mengingat kakak-kakakku senang meracik minyak wangi untukku. Yah, semua menyayangiku. Namanya juga anak bungsu
 ##~~<3~~##

             Aku adalah Senja. Dan aku adalah Senja yang senja. Senja untuk namaku, dan senja untuk usiaku. Begitulah, umurku sudah 69 tahun sekarang. Walau begitu, aku masih sanggup mengetik ratusan kalimat lagi karena yah… Sejak umur 68 tahun dimana bicaraku mulai susah – bicara membuatku amat lelah, dan aku lebih sering berbisik atau bicara terbata-bata –  Zafi, cucuku, menghadiahiku sebuah komputer dengan keyboard berkabel panjang.
Mulanya untuk membantuku menyampaikan apa yang susah ku ucapkan. Jadi, orang-orang di sekitarku bisa mengerti apa yang kuinginkan, walaupun aku tak bicara. Tapi, belakangan aku lebih sering menggunakannya untuk melakukan hal lain: menulis – hobiku sejak masih SMA dulu – untuk diterbitkan di koran-koran.
Asal tahu saja, sebelum berusia senja, namaku cukup dikenal sebagai penulis. Dan karena itulah, aku telah terbiasa menulis – atau mengetik haha.
Aku selalu menulis ‘TAMBAH MIL’ untuk Mila, gadis yang merawatku – semacam pengasuh – bila aku telah menghabiskan semangkuk bubur ayam. Aku selalu menulis ‘AYO KITA JALAN-JALAN KE TAMAN MIL’ bila aku bosan di kamar.
Hihi, sebenarnya aku merasa kasihan juga pada Mila. Ia selalu repot mengurusiku, yang sudah tua dan mulai tak berdaya. Ia selalu mengantarkan makanan untukku. Ia selalu merapikan tempat tidurku, agar aku bisa istirahat dengan nyaman. Ia selalu mendorong kursi rodaku, bila aku ingin pergi ke mana-mana. Ia bahkan tidak jijik, saat membantuku di toilet.
Dan Mila tak pernah mengeluh. Dia merawatku dengan tulus, walaupun aku yakin Zafi tak menggajinya dengan layak. Well, aku memang tak pernah melihat bagaimana cucuku itu menggajinya. Yang kutahu hanya ia membawa Mila ke rumah setahun lalu. Masih segar diingatanku, saat itu ia berkata, “Nek, perkenalkan ini Mila. Mulai hari ini dia yang akan merawat Nenek,”
Dan Zafi pergi meninggalkanku, hanya berdua dengan Mila, di rumah yang besar dan mewah ini. Ya, Zafi memang berhasil dalam pekerjaannya. Ia melanjutkan perusahaan yang diwariskan oleh almarhum putraku. Dan ia juga memiliki hak milik atas butik terkenal yang diwariskan oleh almarhum menantuku.
Yang sedikit menyakitkan, Zafi – cucuku yang nakal itu – meninggalkanku dengan alasan ingin menuntaskan pekerjaannya di luar kota, agar sesudahnya ia bisa tinggal lagi bersamaku. Ia berjanji akan kembali di bulan April. Dan sekarang bulan April, bahkan dua hari lagi April akan berakhir. Tapi agaknya belum ada tanda ia akan datang. Apa benar ia akan datang?
Biarlah. Toh, aku terlanjur marah kepadanya, karena dia tak lagi menyayangiku. Yang ada di pikirannya saat ini hanya uang-uang dan uang. Demi uang ia rela meninggalkanku. Cucu macam apa itu! Huh!
Untung saja ia meninggalkan Mila bersamaku. Dan tulusnya kasih sayang Mila padaku membuatku menyayangi gadis itu pula. Lebih dan lebih dari sayangku kepada Zafi, cucuku sendiri, yang gila harta itu.
Mila selalu tersenyum manakala merawatku. Padahal hari-harinya kelabu karena aku. Saat gadis-gadis lain sebayanya sudah menikah dan punya anak, ia masih single, dan harus merawat wanita renta sepertiku sepanjang waktu.
Kasihan dia. Belum pernah kulihat ia kencan dengan pria manapun. Padahal ia begitu cantik. Mungkin saja secantik diriku saat masih muda dulu. Eh bukan, tentunya aku yang lebih cantik, walaupun aku lebih tomboy. Hihi.

“Nenek, Ada telepon dari Zafi. Mau bicara dengannya?”
Tiba-tiba Mila sudah berdiri di pintu kamarku yang selalu terbuka, sambil menyodorkan handphone nya.
Dadaku berdebar-debar. Apa Zafi akan pulang? Atau, jangan-jangan dia menelpon untuk memberitahuku bahwa ia tidak jadi pulang?
Melihatku diam saja, Mila bertanya lagi, “Nenek mau bicara dengannya?”
Aku mengangguk.
Mila mendekatiku dan menyalakan speaker handphone nya.
“Nenek…?”
Itu suara Zafi! Cucuku yang badung itu! Oh, mendengar suaranya saja aku senang. Ternyata tidak benar kalau setahun ini aku membencinya. Aku merindukannya.
“Ya…” Bisikku.
“Aku kangen Nenek. Apa aku boleh pulang sekarang?”
“Yaa…” Bisikku lagi.
Zafi tertawa, “Aku membawakan oleh-oleh. Sekotak rendang dan sekardus apel kesukaan nenek Dan Nenek jangan terkejut kalau mendengar kabar baik, bahwa aku akan segera menikah. Dengan restu Nenek tentu saja.”
Dadaku bergemuruh. Apa?? Menikah? Bagaimana bisa? Beraninya anak itu, tiba-tiba berkata akan menikah! Bukankah aku harus menyeleksi dulu, siapa yang boleh menjadi calon istrinya? Dia kan cucu kandungku! Atau, apa dia pikir, dia bisa menemukan calon istrinya sendiri, tanpa aku: Orang yang sudah tua dan sangat berpengalaman? Dia pikir ini dongeng atau cerpen apa, menikah dengan seseorang yang ia tentukan sendiri? Seenaknya saja!
“Nenek tak akan merestuimu,”
“Neneekk!!” Zafi berseru dari handphone.
“Beraninya kamu merencanakan pernikahan, tanpa sepengetahuan Nenek. Hanya Nenek yang bisa memilihkan siapa yang cocok untuk menjadi pasangan hidupmu! Jangan coba-coba anak muda! Nenek akan… Nenek… kk… Uhukk… uhuk…”
Kambuh lagi. Penyakit yang menggerogoti jasadku yang ringkih. Kelelahan gara-gara bicara terlalu panjang, menimbulkan batuk, sesak nafas dan susah bergerak. Nafasku mulai tersengal, dan Mila membantuku berbaring lagi di atas ranjang.
Mila mengambilkan minum, dan beberapa teguk air membutku merasa lebih baik. “Nenek jangan marah-marah begitu. Aku sedih melihat Nenek kesakitan seperti ini,” Ujar Mila, lirih. Sebentar diusapnya tanganku, lalu ia merapatkan selimutku.
“Tapi Zafi… Zafi… mau mm... nikah”
Mila tersenyum. “Bukannya dulu, nenek bilang akan bahagia bila Zafi segera menikah menikah?” Tanyanya, sambil meletakkan keyboard ke atas selimutku, agar aku berhenti bicara dan mengetik: Hal yang sangat kubutuhkan saat ini karena aku kembali sulit bicara. Mila memang selalu mengerti keadaanku.
‘MEMANG TAPI BUKAN DENGAN WANITA SEMBARANGAN’
Mila tersenyum lagi, “Nenek tidak percaya pada Zafi?  Dia kan sudah cukup dewasa, Nek. Bukankah lebih baik bila dia sendiri yang mencari calon pasangan hidupnya?”
‘PALING TIDAK DIA MENGENALKAN DULU CALONNYA KEPADA NENEK. AGAR NENEK TAU WANITA ITU AKAN MEMBUATNYA BAHAGIA. BILA BOLEH BERKHAYAL NENEK INGIN WANITA ITU MEMILIKI SIFAT YANG BAIK JUGA KEPADA NENEK, MAU MENYAYANGI NENEK, DAN MAU NENEK SAYANGI... KIRA-KIRA SEPERTI KAMU, MIL’
Mila tersenyum. Lalu berbisik, “Terima kasih, Nek. Nenek adalah wanita paling baik yang pernah Mila temui.” Kemudian dengan suara yang agak keras dia menambahkan, “Ayo minta maaf pada Nenek! Gara-gara kamu Nenek sakit lagi!”
Aku bingung. Apa maksud Mila? Kepada siapa ia bicara? Kepadaku? Tapi mustahil. Atau ia bicara dengan makhluk halus? Menyeramkan, tapi itu juga mustahil. Sampai usiaku yang sesenja ini, aku tak pernah percaya kepada yang namanya takhayul.
“Hehehe… Maaf Nek!”
Tiba-tiba Zafi sudah berdiri di pintu kamarku yang selama setahun ini tak pernah kututup. Tanya kenapa? Karena aku selalu menanti cucuku itu datang, berdiri di sana sambil mengatakan ‘Aku Pulang,’
Dan ternyata dia memang berdiri di sana, saat ini. Tampan sekali, dengan jas hitam dan dasi. Kedua tangannya menenteng bawaan yang agaknya cukup berat.
“Aku pulang,”
Bintang jatuh! Harapan menjadi nyata!
Zafi menghampiri kami. Sebentar ia mengecup dahiku yang penuh kerutan, dan membuat gerakan ingin mencium pipi Mila. Tapi Mila lebih dulu mengelak.
“Belum boleh,” Ujarnya sambil tersenyum.
Tinggal aku dan usiaku yang senja: melongo. Bingung.
“Jadi kapan aku bisa menikah?” Zafi mengusap rambutku penuh kasih. Aku hanya diam. Mencoba memahami semua ini – yang sungguh, lebih membingungkan daripada teka-teki silang. Belum lagi otakku pun sudah mulai senja, sesenja umurku, sesenja namaku. Tidak. Aku tidak mengerti.
‘KAMU TDAK BOLEH MENIKAH DENGAN WANITA SEMBARANGAN.’
Zafi tersenyum lagi, penuh misteri. “Aku tahu, Nek. Jadi kapan aku bisa menikah?”
Aku mengetik lagi, ‘KAMU BOLEH MENIKAH SETELAH NENEK MENGENAL WANITA ITU DAN MERESTUI HUBUNGAN KALIAN’
Zafi berhenti tersenyum, ia tertawa. “Apa satu tahun belum cukup untuk Nenek, mengenal calon istriku?”
Satu tahun? Apa maksudnya?
Mila mencubit bahu Zafi gemas, “Jangan bercanda lagi! Kasihan Nenek!”
“Hehe. Maaf sayang, maaf Nek.”

Pernahkah kamu mendengar petir di tengah hari yang cerah? Belum pernah? Kalau begitu bayangkan saja: Kira-kira apakah kamu akan terkejut? Kalau imajnasimu bagus, maka kamu akan bilang “Iya” dan kamu pasti mengerti bagaimana rasanya. Dan tidak main-main, detik ini aku merasakan petir menyambar dalam dadaku. DHUARR!! Aku terkejut.
Keyboard di atas selimutku merintih lagi, karena jemariku mengetik lebih cepat dan lebih keras. ‘DENGAN MILA?? KAMU??’
“Hehe,” Cucuku Zafi tertawa malu, memamerkan senyuman manja. Dasar!

Oke. Ini cukup memalukan untuk diceritakan. Tapi aku tak boleh berbohong dan menutupi semuanya. Aku, Si tomboy Senja kesayangan ayahku, gadis berkepang dua yang hampir tak pernah memakai rok, yang dulu senang memanjat pohon, berenang di sungai dan bermain layangan: Menangis hanya karena cucuku akan menikahi gadis baik yang setahun ini merawatku. Aku menangis terharu! Kacau!

Dengan senyum yang berserakan, Mila bercerita padaku, tentang rencana panjang yang disusun Zafi, cucuku yang nakal itu. Intinya adalah membuatku mengenal Mila, sekaligus menyayanginya agar aku tak menolaknya bila kelak ia menjadi istri cucuku. Cucu yang benar-benar menyayangiku, sampai-sampai ia tahu kehendakku, bahwa aku tak menginginkan wanita manapun sebagai istrinya kecuali yang kukenal, kusayangi dan menyayangi kami berdua. Alasan yang membuatnya meminta Mila bersabar menunggu, setahun lamanya hanya untuk mencuri hatiku.
Dernyata ia sibuk setahun ini bukan karena gila uang. Ia malahan sibuk menjual warisan almarhum anak-menantuku, dan menyumbangkan sebagian uangnya untuk panti asuhan. Ia sibuk menghabiskan uangnya untuk membangun yayasan kemanusiaan. “Tak ada gunanya banyak uang bila aku tak bisa membahagiakan Nenek dan Mila. Lebih baik warisan Papa dan Mama untuk membahagiakan orang lain saja.”
Tanganku gemetar, badanku sedikit lemas. Tapi tetap, dengan kesungguhan seorang Nenek dan tekad seorang mantan penulis, kuletakkan jemariku di atas keyboard dan mengetik.
‘KAU MENANG ANAK MUDA! KAU DAPAT RESTUKU!’
Zafi dan Mila tersenyum di hadapanku, menatapku dengan penuh kebahagiaan. Segera ia memeluk jasadku yang kurasa mulai berbau tanah, sambil berbisik bahwa ia rindu berat, padaku dan Mila. Dasar bocah. Aku juga rindu padamu, cucuku sayang.

 ##~~<3~~##
   Epilog
   
“Nenek Uyutt!”
            Rizki memangilku, cicitku yang baru 3 tahun umurnya. Ya, anak dari pernikahan Zafi dan Mila 4 tahun yang lalu.
            “Aku puyaang,”
Ujarnya sambil berlari dari pintu kamarku yang tak lagi pernah kukunci. Sebentar ia naik ke atas ranjangku, dan mencium dahiku. Aku tak bisa bicara lagi sekarang. Tapi aku masih bisa tersenyum, dan merengkuh cicitku itu. Bila boleh berkhayal bicaraku masih lancar, ingin rasanya kuucapkan sebaris kalimat pada Rizki. Sebaris saja.
“Seandainya Kamu tahu, Kamu sangat mirip dengan ayahmu anak muda!”

 ##~~<3~~##

Aku adalah Senja. Dan aku adalah Senja yang senja. Senja untuk namaku, dan senja untuk usiaku.

Padang, 1 April 2011 

June 24, 2011

I am 18

Don't you think time just running out too fast? I still remember when I learned how to spell "I-N-I-B-U-D-I" yesterday, and now i'm eighteen! What the....

P.S.
As a birthday gift for my self, I created the new header, and changed the title of this blog :) And oh ya! I also build "The New Home Image". see it on header? LOL
hoho

I'm so sorry for too late replying your comments or too late following your blog back. my modem is getting bad. Now, it takes sooo long loading time, just for open BLOGGER.COM

But don't worry, I'll reply and follow back soon!
Keep my promise! :)
Happy Holiday!

Follow me on twitter

June 20, 2011

Aul's Open Home

It's the 3rd "Aul's Open Home! Yay!"


Sebelumnya...
Maaf para tetangga yang baik. Saya agak telat nge-post nya. Yah, minggu ini barangkali minggu tersibuk dalam bulan juni. Ada banyak hal yang saya lakukan. Yaaa, walaupun saya senang mandi atau menyelam (Istilah yang saya suka sebagai pengganti kata "surfing". hehe) di dunia maya, saya juga tak bisa me-nomordua-kan dunia nyata. The real life is more important you know :D

Kembali ke Aul's Open Home...
Ini mencengangkan. Kenapa blog gak jelas seperti blog ini bisa difollow sampai 300 lebih blogger? Apa sih yang kalian-para-tetangga-yang-baik pikirkan? Mungkin tidak aneh, kalau saja ini adalah blog keren dan super populer dengan postingan yang selalu ditunggu update nya. Mungkin seperti blog bang @Benakribo , atau blog @poconggg , atau blog bang alit @Shitlicious, atau blog kak @Dianarikasari , blog @EvitaNuh ataau blog bagus lain-lain. Tapi ini hanya blog @Aulhome lho, yang belum begitu lama umurnya, pemiliknya masih amatir, dan postingan-postingannya tak punya kualitas sama sekali. HAHA.

Tapi ya...
Terima kasih banyak. Rasanya terima kasih banyak pun tidak cukup, untuk menyampaikan seberapa besar nya kebahagiaan yang saat ini bersemi di gersangnya hati saya.
Terima kasih banyak banyak laaah!
Sudah mau men-follow blog biasa ini. Sudah mau mengomentari setiap post blog biasa ini. Sudah mau berkunjung ke blog biasa ini. Sudah mau melirik link blog biasa ini. Teeriimaaa kaaasiiihh.... hiks hiks T_T

Daaan saya tak bisa memberikan apa-apa...
Saya hanya bisa mengucapkan, terima kasih (untuk segalanya).
Saya hanya bisa mengucapkan, permintaan maaf (bila ada yang tak berkenan di hati tetangga sekalian).
Saya hanya bisa mengucapkan, saya senang (karena blog ini bukan apa-apa tanpa para tetangga semua). Saya hanya bisa mengucapkan, saya bangga (karena bisa berada di antara jutaan blogger lainnya)

Sebagai simbol apresiasi saya atas peran serta kalian-para-tetangga-yang-baik sekalian, dengan ini saya serahkan sebuah AWARD...




Dan award ini BERHAK diterima oleh semua followers saya berikut ini...
(yang sudah follow blog ini tapi belum ada nama berikut link blog nya, mohon segera sampaikan. Agar bisa langsung saya tambahkan di sini. Terima kasih atas perhatiannya :)


























Mission: Bagikan kepada 5 blog tetangga anda yang berhak untuk menerimanya juga :)


Oh ya...!
Di postingan sebelumnya, saya juga sempat memberikan tantangan tentang menyinggung film favorit anda. Terima kasih kepada semua yang telah ikut berpartisipasi! Saya senaaaaaaaaang sekali #Grumpie Jump.
Satu lagi apresiasi untuk keikut sertaannya :))


Catatan: Ini adalah award "Limited Edition" yang tidak untuk dibagikan kepada blog lain. Ya, karena ini award khusus, hanya dimiliki secara eksklusif oleh beberapa blogger saja di seluruh dunia ini. Dan beberapa blogger itu adalah...


(P.S. Yang sudah ikut menerima tantangan "your favorite film" tetapi belum ada namanya di sini, mohon segera hubungi saya ya, agar dapat segera ditambahkan :)

Untuk Yang Belum Tau Bagaimana Menerima Award:
1. Simpan dan koleksi di komputer. jadi hanya anda yang tahu
2. Dipasang sebagai gadget
3. Dipost dan dikoleksi ke dalam entri. Klik di sini untuk contoh
4. Diabaikan saja. Nggak masalah kok :)

Akhir kata, semoga kita semua tetap bisa berbagi di dunia maya ini lewat blog. Keep Spirit!!
See-Yaa! :D hahaaa

Follow me On twitter
Visit My online magazine
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...