Catatan kecil yang harus dibaca dulu sebelum lanjut membaca cerpen ini :
1. Jangan tinggalkan komentar yang tidak berhubungan dengan postingan ini. For now, Spammer's not allowed.
2. Saya bukan Afgan atau Usob. So please no more saying "Mantap Gan" / "Mampir Gan" / "Keren Sob".
3. Cerpen kali ini adalah tulisan fiksi lama saya (tahun 2013) yang sangat-sangat-sangat ringan. Buat lucu-lucuan aja. Buat hiburan. jadi mohon nggak usah komentar serius sampai bawa-bawa HAM atau Agama.
4. Maaf agak ribet, tapi tiap saya publish cerpen sering kejadian begitu sih. hehe. Enjoy :)
--- CINTA MONYET ---
Hal yang paling mengesalkan bagiku adalah diragukan. Terlebih lagi diragukan oleh orang yang kuharapkan tidak akan pernah meragukanku, bahkan setelah kulakukan berbagai cara untuk meyakinkan ketidakbenaran dari keraguan yang ia tuduhkan dalam pikirannya itu.
Apalagi tentang cinta. Tidak tanggung-tanggung saudara-saudara. Tentang cinta! Hal nomor wahid paling absurd di dunia, selain makan, tidur dan buang air besar.
Nah, kekesalan yang kurasakan saat ini adalah yang paling buruk dari yang pernah ada: Cintaku diragukan! Ha! Padahal aku selalu sungguh-sungguh dalam segala hal yang kukerjakan. Sungguh-sungguh. Namun sekarang, cintaku yang sedalam lautan dan sebening sungai di pegunungan diragukan layaknya genangan air comberan di perkotaan. Keterlaluan.
“Jangan lupa nyalain GPS handphone ya. Segera telepon kalau nyasar. Terus kalau Kamu tiba-ti....”
“IYA MA. YA AMPUN AKU UDAH DUA PULUH TAHUN”
Mama terkekeh geli. Kebiasaan buruknya itu ya, begitu. Kalau aku akan pergi sendiri ke suatu tempat, bahkan walaupun hanya ke rumah teman atau sahabat, kekhawatirannya cenderung berlebihan. Salahku juga sih, kenapa mau dilahirkan sebagai perempuan. Dan kenapa harus lahir di urutan terakhir.
“Tanda sayang,” kata mama selalu setiap kali aku mengeluh kenapa harus diberi perhatian terlalu banyak. Bukannya tidak bersyukur atau apa. Tapi kakak-kakakku tak pernah mendapatkan kesulitan bila menyangkut kepergian atau keselamatan. Mereka bisa pergi ke mana saja yang mereka mau. Kapan pun. Selama apapun. Enak betul.
“Pergi dulu, Ma!” ujarku sambil melangkah masuk ke taksi yang sudah menunggu sedari tadi. “Nanti Aku kabarin kalo udah sampai”
“Hati-hati ya, Laura. Segera hubungi Mama kalau supir taksi nya bertindak mencurigakan atau me...”
“JALAN PAK. BURUAN”
Ya ampun mama.
----------------------------------------
[Rena]: Mungkin gara-gara Elo belum punya pacar?
Rena memberikan pendapatnya lewat chat di BBM ku. Ini sudah kesekian kalinya aku bercerita padanya soal kekhawatiran Mama yang selalu diluar kewajaran. Dan ini juga sudah kesekian kalinya Rena mencoba menerka apa alasan Mama. Tapi pendapat yang ini agak konyol.
[You]: Ya kali. Doain aja deh gue segera dapet satu sepulang dari sini. Yang ganteng, banyak duitnya dan kemana-mana pake kuda putih.
[Rena]: Hahaha enak aja. Itu kan tipe gue!!
[You]: Siapa cepat dia dapat Ren. Haha :p
Bus yang aku dan peserta lain tumpangi masih belum bergerak. Biasa, macet musim liburan. Ini sudah hampir satu jam dan belum juga ada tanda-tanda kendaraan ini akan melaju lagi. Aku sudah memutar hampir seluruh lagu di Mp3 Player-ku, sudah menghabiskan dua bungkus coklat ukuran medium dan sebotol air mineral. Tapi tak ada efek. Semuanya mulai terasa membosankan.
Di luar sudah mulai terlihat laut. Berarti mungkin sudah tak jauh lagi dari lokasi pelabuhan. Ya, saat ini aku dan sembilan belas orang lainnya menjadi peserta liburan di kawasan pulau lombok karena berhasil mengisi kuis Teka-teki Silang di sebuah majalah. Sebanyak 20 orang berhasil menjawab dengan nilai sempurna dan berhak memenangkan tiket. Konyol memang. Sejujurnya akan lebih keren bila tiket liburan ini didapat dari lomba cerpen atau sayembara novel atau kompetisi design. Teka-teki silang terdengar purba di zaman gadget ini.
“BUAHAHAHAHAHA!!!”
Sebuah tawa keras yang memekakkan telinga tiba-tiba meledak dari bangku sebelahku. Aku terlonjak kaget. Orang itu pun terlonjak kaget. Sebentar ia kelihatan k, sambil celingak-celinguk mencari-cari di mana suara tawa itu berasal dan ia kelihatan pucat saat mengetahui bahwa itu suara alarm ponselnya.
Orang aneh.
Yang kurang kerjaan.
Kemudian ia menoleh dengan gesture minta maaf kepada semua orang yang sedang memperhatikannya. Memang hampir semua orang yang ada di dalam bus menatapnya penuh tanda tanya. Dasar sinting, barangkali begitu isi kepala mereka.
“Maaf ya, Mbak. Saya nggak bermaksud mengganggu.” bisiknya padaku.
“Oh ya? Tapi yang barusan mengganggu banget lho, Mas.”
Dia tampak makin gugup. Aku berusaha menahan senyum.
“Iya Mbak, maaf. Saya dikerjain teman Saya. Saya sendiri juga kaget.”
“Oooh..” Aku pura-pura mengerti.
Lelaki di sampingku masih kasak-kusuk mengutak-atik isi ransel nya. Lalu berusaha menenangkan diri dengan menarik napas dalam-dalam dan menutup mukanya dengan sapu tangan.
Tipikal orang kantoran.
Kaku, kikuk, sedikit culun.
“Kok bisa dikerjain segala?” tanyaku iseng.
Rasanya mau mati karena bosan. Mungkin sedikit ngobrol bisa membuatku terhibur. Walaupun sebenarnya orang di sebelahku ini tak kelihatan seperti orang yang bahan obrolannya akan menghibur. Atau memang, jangan-jangan ia malah akan membuatku semakin bosan?
Sial. Nyesel deh nanya, bisikku dalam hati.
“Entahlah. Mungkin agar Saya sedikit lebih ceria?” ujarnya sambil menyeka keringat. “Menurut mereka Saya ini kaku, kikuk, terlalu pendiam, kurang ekspresif atau semacam itulah.”
“Memang,” bisikku sambil nyengir.
“Masa?”
“Nggak. Cuma bercanda.”
“Oh, gitu.” Ucapnya datar.
“Nah, kan? Emang bener!” tawaku meledak.
Ia tersenyum kecut. “Saya salah jawab ya?”
“BUAHAHAHAHAHA”
Tawaku meledak makin keras.
Kemudian sebelum semua orang melihat ke arahku dan berbisik “Orang sinting” di kepala mereka, segera kudekap mulutku.
Lalu kami berkenalan. Umurnya ternyata hanya setahun di atasku. Namanya Abdi Kuncoro. Ya ampun, nama yang sungguh cocok. Formal. Resmi. Kaku. Tipikal orang-orang yang bekerja memakai dasi dan jas, paginya minum kopi dan roti tawar, malamnya lembur dengan setumpuk dokumen.
Menurutnya, teman-teman di kantornya lebih fleksible daripada dirinya. Di waktu senggang, teman-temannya hobi hura-hura di karaoke atau kafe, sementara ia lebih suka membaca di perpustakaan kantornya. Teman-temannya suka jalan-jalan di akhir pekan, dan ia lebih suka di kontrakannya, menulis artikel ilmiah untuk dikirim-kirim ke berbagai konferensi. Atau bila sedang tak ingin di rumah ia bersepeda keliling kota. Poin yang terakhir boleh lah, tapi yang lainnya terlalu parah. Aku curiga sebenarnya dia ini bukan manusia biasa.
Teman-temannya sering mengerjai nya agar ia sedikit lebih santai. Agar ia tidak terlalu serius dalam segala hal dan mulai menjalani hari dengan lebih “berwarna”. Lalu lelucon alarm tawa tadi adalah salah satunya. Menarik juga, pikirku. Mungkin saat di pulau nanti aku bisa mengerjainya dengan beberapa lelucon.
Kemudian bayangan capit kepiting, ubur-ubur, seafood dengan merica ekstra pedas dan lain-lain berkelebat di benakku. Tanpa sadar aku tersenyum.
“Apanya yang lucu?” tegurnya pelan.
“Kamu,”
“Aku?”
“Hahaha. Lupain aja.”
Kemudian giliran aku yang bercerita. Tentang kuliahku yang tinggal satu semester lagi, tentang hobi mengoleksi batu yang sudah kujalani sejak kelas dua SD, tentang kebiasaan burukku yang tidak bisa diam, dan soal bagaimana aku bisa memenangkan hadiah tiket liburan ini.
“Mengoleksi batu?” ujarnya mengerutkan dahi. Kemudian ia melepas kacamata nya dan kembali mengelap keringat.
“Iya. Bukan batu-batu biasa di jalanan lho, ya. Batu-batu sungai yang warna nya cantik”
“Hobi yang aneh” bisiknya sambil tersenyum.
Wow.
Orang ini ternyata lumayan ganteng juga.
“Asyik lho” Ujarku.
“Masa?”
“Iya, asyik banget. Aduhh, Kamu jangan terlalu lurus dong. Sekali-kali harus mencoba hal-hal aneh. Minimal kamu jadi bisa tau lebih banyak dan pandangan kamu bakal lebih luas. Percaya deh!”
Abdi mendadak diam. Sesaat ia menatap ke arah jendela di samping nya. Kelihatannya seperti sedang memikirkan sesuatu atau sedang menenangkan hati.
Aku jadi salah tingkah.
Apa aku sudah membuatnya tersinggung?
“Aku salah ngomong, ya?”
“Nggak kok,” bisiknya. “Mungkin Kamu ada benarnya. Rasanya selama ini aku terlalu lurus.”
“Maksudnya?”
“Yah..” ia menatapku dalam. “Sejujurnya, yang ada dalam pikiran ku selama ini hanyalah obsesi untuk menjadi orang normal berprestasi. Juara di sekolah, nilai IPK bagus, gelar yang sulit dicapai orang lain, pekerjaan yang sempurna dengan gaji tinggi. Semuanya sesuai dengan kehendak orang tuaku. Dan… entah kenapa kok akhir-akhir ini rasanya mulai membosankan.”
“Sabar,” ujarku sembarangan sambil menatap langit-langit bus. “Kalau Kamu mau, Aku mungkin bisa membantu lho. Maksudku, supaya kamu nggak terlalu lurus lagi jadi orang. Hidup ini nggak akan indah kalau cara hidup kamu kayak gitu.”
“Serius?”
“Iya.”
“Thanks. Ini pertama kalinya lho, Aku curhat sama orang asing” ujarnya sambil tersenyum makin lebar.
Wow. I mean, WOW.
Orang ini lebih dari sekedar ganteng ternyata.
“Kok orang asing? Kita kan udah kenalan! Haha”
“Iya sih,” Ujarnya sambil kembali mengenakan kacamata.
“Tunggu deh,” ujarku sambil mengambil kacamata nya. “Pelajaran pertama, mending kamu ganti kacamata norak ini sama contact lens.”
“Karena?”
“Kacamata itu bikin kamu kayak orang kantoran era 80-an. Haha”
Tak lama bus yang kami tumpangi kembali bergerak. Syukurlah. Namun sebenarnya aku sudah tak keberatan lagi bila kemacetan tadi berlangsung lebih lama. Toh, aku baru menemukan Abdi. Aku tak lagi merasa bosan.
Tiba-tiba handphone ku berbunyi.
[Rena]: Lauraaaa! Barusan gue ditembak Alex!
[You]: Congrats naa! Eh gue juga baru ketemu seseorang nih. Doain bisa lebih deket ya, hahaha
[Rena]: Siapa?
[You]: Cowok kantoran. Yang ganteng, banyak duitnya dan kemana-mana pake kuda putih. Pas banget sama yang gue cari kan? hihihi. Eh tapi nggak juga sih, soalnya dia nggak pake kuda. Tapi dia pake sepeda katanya hahaha
--END--
*Saya publish juga di Majalah Online penuh cerita, AOMAGZ*
This is my first Short story/cerpen on a national magazine! Alhamdulillah :)
So, last september I randomly sent my short story to HAI Magazine by e-mail. I thought it would not be published, because the story is not a new one. I wrote it about a year before. I didn't remember what I was thinking at that moment. Seriously, I just sent it for no purpose. I was surprised when I checked my inbox 2 weeks ago--when I read an e-mail from the magazine, telling me that my short story would be published on first week of march edition--I'm out of my mind!
Today I bought the magazine and here are some of the pics..
Aku adalah
Senja. Dan aku adalah Senja yang senja. Nah, dahi mu jangan berkerut dulu,
berusaha memahami apa yang baru saja kamu baca. Dengar dulu aku berkata-kata,
barulah kamu boleh melakukan apa saja, termasuk bingung atau tersenyum atau tertawa
atau mencela.
Ya, Senja adalah nama yang diberikan
almarhum orang tuaku untukku, putrinya yang paling bungsu. Nama lengkapku Dewi
Nara Senja. Nama yang bagus bukan? Ibu memanggilku Dewi, sedangkan ayah
memanggilku Senja.
Jujur saja, aku lebih senang dengan panggilan yang diberikan ayah.
Menurutku, panggilan ‘Dewi’ terlalu feminim. Tidak cocok untukku yang senang
memanjat pohon, berenang di sungai dan bermain layangan. Sedangkan ‘Senja’
terdengar lebih baik. Tidak begitu manis, tidak begitu ayu, dan lumayan sesuai
dengan karakterku yang menurut teman-temanku – hampir semuanya laki-laki –
sangat aneh. Aneh karena di waktu aku kecil dulu, sangat langka kejadiannya
gadis berkepang dua hampir tak pernah pakai rok. Yah, aku memang tomboy, kau
tahu.
Tapi sumpah, aku juga merasa lebih
senang dipanggil Dewi oleh ibuku, daripada panggilan yang diberikan teman-teman
padaku. Mereka menyapaku dengan ‘Inja’. Menjijikkan sekali bila mereka
mengolok-olok panggilanku dengan menambahkan huruf ‘T’ Sebelum ‘Inja’. Padahal
aku tak pernah bau, mengingat kakak-kakakku senang meracik minyak wangi
untukku. Yah, semua menyayangiku. Namanya juga anak bungsu
##~~<3~~##
Aku adalah Senja. Dan aku adalah Senja
yang senja. Senja untuk namaku, dan senja untuk usiaku. Begitulah, umurku sudah
69 tahun sekarang. Walau begitu, aku masih sanggup mengetik ratusan kalimat
lagi karena yah… Sejak umur 68 tahun dimana bicaraku mulai susah – bicara membuatku
amat lelah, dan aku lebih sering berbisik atau bicara terbata-bata – Zafi, cucuku, menghadiahiku sebuah komputer
dengan keyboard berkabel panjang.
Mulanya untuk membantuku menyampaikan apa yang susah ku ucapkan. Jadi,
orang-orang di sekitarku bisa mengerti apa yang kuinginkan, walaupun aku tak
bicara. Tapi, belakangan aku lebih sering menggunakannya untuk melakukan hal
lain: menulis – hobiku sejak masih SMA dulu – untuk diterbitkan di koran-koran.
Asal tahu saja, sebelum berusia senja, namaku cukup dikenal sebagai
penulis. Dan karena itulah, aku telah terbiasa menulis – atau mengetik haha.
Aku selalu menulis ‘TAMBAH MIL’ untuk Mila, gadis yang merawatku –
semacam pengasuh – bila aku telah menghabiskan semangkuk bubur ayam. Aku selalu
menulis ‘AYO KITA JALAN-JALAN KE TAMAN MIL’ bila aku bosan di kamar.
Hihi, sebenarnya aku merasa kasihan juga pada Mila. Ia selalu repot
mengurusiku, yang sudah tua dan mulai tak berdaya. Ia selalu mengantarkan
makanan untukku. Ia selalu merapikan tempat tidurku, agar aku bisa istirahat
dengan nyaman. Ia selalu mendorong kursi rodaku, bila aku ingin pergi ke
mana-mana. Ia bahkan tidak jijik, saat membantuku di toilet.
Dan Mila tak pernah mengeluh. Dia merawatku dengan tulus, walaupun aku
yakin Zafi tak menggajinya dengan layak. Well, aku memang tak pernah melihat
bagaimana cucuku itu menggajinya. Yang kutahu hanya ia membawa Mila ke rumah
setahun lalu. Masih segar diingatanku, saat itu ia berkata, “Nek, perkenalkan
ini Mila. Mulai hari ini dia yang akan merawat Nenek,”
Dan Zafi pergi meninggalkanku, hanya berdua dengan Mila, di rumah yang
besar dan mewah ini. Ya, Zafi memang berhasil dalam pekerjaannya. Ia melanjutkan
perusahaan yang diwariskan oleh almarhum putraku. Dan ia juga memiliki hak
milik atas butik terkenal yang diwariskan oleh almarhum menantuku.
Yang sedikit menyakitkan, Zafi – cucuku yang nakal itu – meninggalkanku
dengan alasan ingin menuntaskan pekerjaannya di luar kota, agar sesudahnya ia bisa tinggal lagi
bersamaku. Ia berjanji akan kembali di bulan April. Dan sekarang bulan April,
bahkan dua hari lagi April akan berakhir. Tapi agaknya belum ada tanda ia akan
datang. Apa benar ia akan datang?
Biarlah. Toh, aku terlanjur marah kepadanya, karena dia tak lagi
menyayangiku. Yang ada di pikirannya saat ini hanya uang-uang dan uang. Demi
uang ia rela meninggalkanku. Cucu macam apa itu! Huh!
Untung saja ia meninggalkan Mila bersamaku. Dan tulusnya kasih sayang
Mila padaku membuatku menyayangi gadis itu pula. Lebih dan lebih dari sayangku
kepada Zafi, cucuku sendiri, yang gila harta itu.
Mila selalu tersenyum manakala merawatku. Padahal hari-harinya kelabu
karena aku. Saat gadis-gadis lain sebayanya sudah menikah dan punya anak, ia
masih single, dan harus merawat wanita renta sepertiku sepanjang waktu.
Kasihan dia. Belum pernah kulihat ia kencan dengan pria manapun. Padahal
ia begitu cantik. Mungkin saja secantik diriku saat masih muda dulu. Eh bukan,
tentunya aku yang lebih cantik, walaupun aku lebih tomboy. Hihi.
“Nenek, Ada telepon dari Zafi. Mau bicara dengannya?”
Tiba-tiba Mila sudah berdiri di pintu kamarku yang selalu terbuka, sambil
menyodorkan handphone nya.
Dadaku berdebar-debar. Apa Zafi akan pulang? Atau, jangan-jangan dia
menelpon untuk memberitahuku bahwa ia tidak jadi pulang?
Melihatku diam saja, Mila bertanya lagi, “Nenek mau bicara dengannya?”
Aku mengangguk.
Mila mendekatiku dan menyalakan speaker handphone nya.
“Nenek…?”
Itu suara Zafi! Cucuku yang badung itu! Oh, mendengar suaranya saja aku
senang. Ternyata tidak benar kalau setahun ini aku membencinya. Aku
merindukannya.
“Ya…” Bisikku.
“Aku kangen Nenek. Apa aku boleh pulang sekarang?”
“Yaa…” Bisikku lagi.
Zafi tertawa, “Aku membawakan oleh-oleh. Sekotak rendang dan sekardus
apel kesukaan nenek Dan Nenek jangan terkejut kalau mendengar kabar baik, bahwa
aku akan segera menikah. Dengan restu Nenek tentu saja.”
Dadaku bergemuruh. Apa?? Menikah? Bagaimana bisa? Beraninya anak itu,
tiba-tiba berkata akan menikah! Bukankah aku harus menyeleksi dulu, siapa yang
boleh menjadi calon istrinya? Dia kan
cucu kandungku! Atau, apa dia pikir, dia bisa menemukan calon istrinya sendiri,
tanpa aku: Orang yang sudah tua dan sangat berpengalaman? Dia pikir ini dongeng
atau cerpen apa, menikah dengan seseorang yang ia tentukan sendiri? Seenaknya
saja!
“Nenek tak akan merestuimu,”
“Neneekk!!” Zafi berseru dari handphone.
“Beraninya kamu merencanakan pernikahan, tanpa sepengetahuan Nenek. Hanya
Nenek yang bisa memilihkan siapa yang cocok untuk menjadi pasangan hidupmu!
Jangan coba-coba anak muda! Nenek akan… Nenek… kk… Uhukk… uhuk…”
Kambuh lagi. Penyakit yang menggerogoti jasadku yang ringkih. Kelelahan
gara-gara bicara terlalu panjang, menimbulkan batuk, sesak nafas dan susah
bergerak. Nafasku mulai tersengal, dan Mila membantuku berbaring lagi di atas
ranjang.
Mila mengambilkan minum, dan beberapa teguk air membutku merasa lebih baik.
“Nenek jangan marah-marah begitu. Aku sedih melihat Nenek kesakitan seperti
ini,” Ujar Mila, lirih. Sebentar diusapnya tanganku, lalu ia merapatkan
selimutku.
“Tapi Zafi… Zafi… mau mm... nikah”
Mila tersenyum. “Bukannya dulu, nenek bilang akan bahagia bila Zafi segera
menikah menikah?” Tanyanya, sambil meletakkan keyboard ke atas selimutku, agar
aku berhenti bicara dan mengetik: Hal yang sangat kubutuhkan saat ini karena
aku kembali sulit bicara. Mila memang selalu mengerti keadaanku.
‘MEMANG TAPI BUKAN DENGAN WANITA SEMBARANGAN’
Mila tersenyum lagi, “Nenek tidak percaya pada Zafi? Dia kan
sudah cukup dewasa, Nek. Bukankah lebih baik bila dia sendiri yang mencari
calon pasangan hidupnya?”
‘PALING TIDAK DIA MENGENALKAN DULU CALONNYA KEPADA NENEK. AGAR NENEK TAU
WANITA ITU AKAN MEMBUATNYA BAHAGIA. BILA BOLEH BERKHAYAL NENEK INGIN WANITA ITU
MEMILIKI SIFAT YANG BAIK JUGA KEPADA NENEK, MAU MENYAYANGI NENEK, DAN MAU NENEK
SAYANGI... KIRA-KIRA SEPERTI KAMU, MIL’
Mila tersenyum. Lalu berbisik, “Terima kasih, Nek. Nenek adalah wanita
paling baik yang pernah Mila temui.” Kemudian dengan suara yang agak keras dia
menambahkan, “Ayo minta maaf pada Nenek! Gara-gara kamu Nenek sakit lagi!”
Aku bingung. Apa maksud Mila? Kepada siapa ia bicara? Kepadaku? Tapi
mustahil. Atau ia bicara dengan makhluk halus? Menyeramkan, tapi itu juga
mustahil. Sampai usiaku yang sesenja ini, aku tak pernah percaya kepada yang
namanya takhayul.
“Hehehe… Maaf Nek!”
Tiba-tiba Zafi sudah berdiri di pintu kamarku yang selama setahun ini tak
pernah kututup. Tanya kenapa? Karena aku selalu menanti cucuku itu datang,
berdiri di sana
sambil mengatakan ‘Aku Pulang,’
Dan ternyata dia memang berdiri di sana,
saat ini. Tampan sekali, dengan jas hitam dan dasi. Kedua tangannya menenteng
bawaan yang agaknya cukup berat.
“Aku pulang,”
Bintang jatuh! Harapan menjadi nyata!
Zafi menghampiri kami. Sebentar ia mengecup dahiku yang penuh kerutan,
dan membuat gerakan ingin mencium pipi Mila. Tapi Mila lebih dulu mengelak.
“Belum boleh,” Ujarnya sambil tersenyum.
Tinggal aku dan usiaku yang senja: melongo. Bingung.
“Jadi kapan aku bisa menikah?” Zafi mengusap rambutku penuh kasih. Aku
hanya diam. Mencoba memahami semua ini – yang sungguh, lebih membingungkan
daripada teka-teki silang. Belum lagi otakku pun sudah mulai senja, sesenja
umurku, sesenja namaku. Tidak. Aku tidak mengerti.
‘KAMU TDAK BOLEH MENIKAH DENGAN WANITA SEMBARANGAN.’
Zafi tersenyum lagi, penuh misteri. “Aku tahu, Nek. Jadi kapan aku bisa
menikah?”
Aku mengetik lagi, ‘KAMU BOLEH MENIKAH SETELAH NENEK MENGENAL WANITA ITU
DAN MERESTUI HUBUNGAN KALIAN’
Zafi berhenti tersenyum, ia tertawa. “Apa satu tahun belum cukup untuk
Nenek, mengenal calon istriku?”
Satu tahun? Apa maksudnya?
Mila mencubit bahu Zafi gemas, “Jangan bercanda lagi! Kasihan Nenek!”
“Hehe. Maaf sayang, maaf Nek.”
Pernahkah kamu mendengar petir di tengah hari yang cerah? Belum pernah?
Kalau begitu bayangkan saja: Kira-kira apakah kamu akan terkejut? Kalau
imajnasimu bagus, maka kamu akan bilang “Iya” dan kamu pasti mengerti bagaimana
rasanya. Dan tidak main-main, detik ini aku merasakan petir menyambar dalam
dadaku. DHUARR!! Aku terkejut.
Keyboard di atas selimutku merintih lagi, karena jemariku mengetik lebih
cepat dan lebih keras. ‘DENGAN MILA?? KAMU??’
Oke. Ini cukup memalukan untuk diceritakan. Tapi aku tak boleh berbohong
dan menutupi semuanya. Aku, Si tomboy Senja kesayangan ayahku, gadis berkepang
dua yang hampir tak pernah memakai rok, yang dulu senang memanjat pohon,
berenang di sungai dan bermain layangan: Menangis hanya karena cucuku
akan menikahi gadis baik yang setahun ini merawatku. Aku menangis terharu!
Kacau!
Dengan senyum yang berserakan, Mila bercerita padaku, tentang rencana
panjang yang disusun Zafi, cucuku yang nakal itu. Intinya adalah membuatku
mengenal Mila, sekaligus menyayanginya agar aku tak menolaknya bila kelak ia
menjadi istri cucuku. Cucu yang benar-benar menyayangiku, sampai-sampai ia tahu
kehendakku, bahwa aku tak menginginkan wanita manapun sebagai istrinya kecuali
yang kukenal, kusayangi dan menyayangi kami berdua. Alasan yang membuatnya
meminta Mila bersabar menunggu, setahun lamanya hanya untuk mencuri hatiku.
Dernyata ia sibuk setahun ini bukan karena gila uang. Ia malahan sibuk
menjual warisan almarhum anak-menantuku, dan menyumbangkan sebagian uangnya
untuk panti asuhan. Ia sibuk menghabiskan uangnya untuk membangun yayasan
kemanusiaan. “Tak ada gunanya banyak uang bila aku tak bisa membahagiakan Nenek
dan Mila. Lebih baik warisan Papa dan Mama untuk membahagiakan orang lain
saja.”
Tanganku gemetar, badanku sedikit lemas. Tapi tetap, dengan kesungguhan
seorang Nenek dan tekad seorang mantan penulis, kuletakkan jemariku di atas
keyboard dan mengetik.
‘KAU MENANG ANAK MUDA! KAU DAPAT RESTUKU!’
Zafi dan Mila tersenyum di hadapanku, menatapku dengan penuh kebahagiaan.
Segera ia memeluk jasadku yang kurasa mulai berbau tanah, sambil berbisik bahwa
ia rindu berat, padaku dan Mila. Dasar bocah. Aku juga rindu padamu, cucuku
sayang.
##~~<3~~##
Epilog
“Nenek Uyutt!”
Rizki memangilku, cicitku yang baru
3 tahun umurnya. Ya, anak dari pernikahan Zafi dan Mila 4 tahun yang lalu.
“Aku puyaang,”
Ujarnya sambil berlari dari pintu kamarku yang tak lagi pernah kukunci.
Sebentar ia naik ke atas ranjangku, dan mencium dahiku. Aku tak bisa bicara
lagi sekarang. Tapi aku masih bisa tersenyum, dan merengkuh cicitku itu. Bila
boleh berkhayal bicaraku masih lancar, ingin rasanya kuucapkan sebaris kalimat
pada Rizki. Sebaris saja.
“Seandainya Kamu tahu, Kamu sangat mirip dengan ayahmu anak muda!”
##~~<3~~##
Aku adalah Senja. Dan aku adalah Senja yang senja. Senja untuk namaku,
dan senja untuk usiaku.
Lama tak posting! Yah, seminggu ini saya benar-benar tak punya waktu luang untuk blogging. setiap waktu luang yang ada dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk berlatih, musik dan tarian adat untuk nilai ujian praktek kesenian. Belum lagi segala ujian dan try out yang bertumpuk-tumpuk. Ukh! Saya minta maaf, kepada tetangga yang sudah berkunjung ke sini tapi belum juga mendapat kunjungan balik dari saya....
Mungkin saya belum bisa post yang aneh-aneh dulu. Jadi sekarang saya mau post cerpen saja, yang Alhamdulillah telah dimuat di koran Singgalang, edisi rabu, 16 Februari 2011, beredar di Sumatra Barat dan sekitarnya...
Enjoyed it! :)
Sebuah Keinginan
By: Aul Howler (Nama pena. Yang di koran nama asli)
“Titt… titt… titt…”
Terdengar
suara-suara aneh. Berdenging, berulang-ulang. Nyaring, mengiang-ngiang. Mirip
suara jarum detik, tapi lebih tinggi dan terdengar bernada. Lagipula jarum
detik bunyinya tik-tik-tik, bukan tit-tit-tit. Suara itu berbunyi lagi dan
lagi, seakan tiada akan henti. Dan tak ada suara lain selain tit-tit-tit yang
memekakkan telinga itu. Tak ada? Ya, tak ada. Hanya suara itu saja.
Tidak,
tidak. Samar-samar aku bisa mendengar suara lain. Suara denyut. Berangkai dua
dua, mengalun dengan ritme yang sedikit bimbang, ragu-ragu. Mungkin karena
hanya terdengar samar, kadang-kadang tak kedengaran. Suara apa itu? Rasanya
pernah kudengar.
Hmmm… Oh, iya! Suaranya mirip suara
degup jantung si Raka, saat kulekatkan stetoskop di dadanya waktu praktek di
jam olahraga. Dulu, semasa SD.
Ah, tapi
dia kan sudah
pindah ke Jakarta?
Mustahil yang kudengar sekarang degup jantungnya. Apakah degup jantung ibu?
Atau ayah? Atau Mira? Ah, kurasa itu juga tak mungkin. Aku tak punya stetoskop
sekarang.
Apa ini
suara degup jantungku? Ya, ya. Mungkin suara degup jantungku. Sebab tak ada
suara orang di sini, selain bunyi tit-tit-tit sial itu, belum juga mau
berhenti. Lucu juga, suara tit-tit-tit dan suara degup jantungku bila disimak
baik-baik seperti musik. Mungkin aku bisa bernyanyi?
Ah, kenapa
ini? Mulutku tak mau terbuka? Biasanya bibirku bergerak bila aku hendak
bernyanyi, atau bersenandung. Tapi sekarang, kok tak bisa? Ah, biar kucoba
sekali lagi. Ummph… Umphh… Iya! Benar-benar tidak bisa. Bahkan aku mulai merasa
tak yakin mulutku ada. Benar-benar serasa tak ada. Ya Tuhan, kemana perginya
mulutku?
Ah, masa
iya mulutku tak ada? Coba kuraba dulu. Urgh…! Urgh…! Kenapa ini? Kenapa
tanganku juga tak bisa digerakkan? Urgh… iya! Tidak bisa. Masih tidak bisa
bergerak. Bagaimana ini? Aduh, bagaimana ini?
Ah, mungkin
kalau aku membuka mataku, aku bisa melihat tanganku. Barangkali terkilir,
makanya mati rasa. Baiklah, biar kucoba membuka mata. Aduh! Perih! Kenapa ini?
Mataku juga tak bisa dibuka! Kenapa ini? Apa mataku terluka? Kenapa setiap
kucoba untuk membukanya terasa perih?
Ya ampun,
apa-apaan ini? Kenapa ini bisa terjadi? Ah, pikiranku dan kecemasanku menumpuk
di kepala, membuat kepalaku terasa berdenyut-denyut ngilu. Dan dahiku! Dahiku
terasa ngilu sekali. Belum pernah aku merasakan hal ini. Kenapa ini? Ah, hatiku
tiba-tiba terasa sedih. Dan di bawah dahiku terasa hangat, seperti ada yang
mengalir. Air matakah? Mustahil, aku tak pernah menangis lagi sejak umur tujuh
tahun, saat Jeki memukul kepalaku dengan tangkai sapu hingga bengkak.
Mengalir
lagi. Terasa seperti air. Berarti ini memang airmata. Aneh sekali! Mataku tak
bisa terbuka tapi air mataku bisa keluar!
“Mas! Mas!
Arka menangis!!”
Terdengar
suara wanita menjerit – Oh ya, aku baru sadar. Ternyata semua bagian tubuhku
tak terasa fungsinya kecuali telinga. Aku bisa mendengar – dan wanita itu masih
menjeritkan kata Mas.
Terdengar
suara langkah-langkah kaki. Beriringan. Ada
langkah berat dan langkah-langkah kecil. Hmm… mungkin lebih dari satu orang.
“Reni, kamu
jangan begitu. Aku paham kamu rindu sekali pada Arka. Tapi tak perlu sampai mengarang
hal yang aneh-aneh begitu.” Suara pria itu terdengar parau.
“Aku nggak
bohong, Mas! Itu, lihat sendiri!”
Terdengar
lagi langkah kaki. Semakin dekat, bertambah dekat, dan aku merasa dahiku
dibelai. Tangan yang hangat. Aku suka dibelai seperti itu. Dahiku yang tadi
terasa ngilu perlahan mulai normal lagi.
“Arka…
Bangun lah nak… Ini Ibu. Ibu di sini nungguin kamu.”
Ibu? Ya
ampun, Ibuku! Ibuu!! Ingin aku berteriak, tapi mulutku masih tak terasa. Aku
masih tak bisa bicara, apalagi berteriak. Tangan. Tanganku pun masih belum bisa
digerakkan. Aku ingin memegang tangan ibu yang masih membelai dahiku. Ahh…
tanganku tak terasa juga. Mata. Aku ingin melihat Ibu. Aku ingin melihat Ibuku.
Arghh... Tapi mataku juga tak bisa dibuka. Semuanya masih gelap. Gelap sekali.
Seperti malam hari di dalam kamar, tanpa lampu. Benar-benar gelap, tak ada yang
bisa dilihat selain hitam.
“Arka,
bangunlah. Ini Ayah. Ini ayah nak.”
Terasa
sebuah tangan lagi. Yang ini rasanya agak kasar dan kaku, tapi juga hangat.
Seperti tangan ibu. Ayah! Ayahku! Oh, Aku ingin sekali melihat ayah. Aku ingin
sekali menggenggam tangan ayah. Aku ingin sekali bilang, “Ayah, Arka sayang Ayah”.
Tapi tak bisa. Mata, tangan dan mulutku masih tak bisa diapa-apakan.
“Kak, ayo
bangun. Aku kangen kakak,”
Siapa itu?
Kedengarannya seperti suara seorang gadis. Siapa? Kenapa dia memanggilku kakak?
Aku tak punya adik sebesar itu kan?
Adikku Mira masih cadel, umurnya baru tiga setengah tahun. Oh, mungkin ini
temanku, atau anak tetangga?
Ah, di
sekitarku telah berkumpul keluargaku. Keluarga yang sangat aku sayangi. Tapi
aku tak bisa apa-apa sekarang. Mulutku tak bisa bicara. Tanganku tak bisa digerakkan.
Dan mataku, belum bisa kugunakan untuk melihat mereka. Bagaimana caranya mengatakan
“Aku sayang kalian.” kepada mereka? Bagaimana caranya memberitahu mereka bahwa
aku mendengar mereka bicara?
Ah,
tiba-tiba hatiku menjadi sedih lagi. Dadaku terasa sesak, menahan kesedihan.
Dan tanpa kusadari, ada air lagi yang mengalir di pipiku.
“Ayah! Ibu!
Kakak menangis!” gadis itu menjerit histeris.
“Arka, ini
Ibu nak. Ini ibu”
“Di sini
juga ada Ayah, nak”
“Kak, Aku
juga di sini. Ayo bangun”
Dan suara
orang-orang di sekitarku menjadi-jadi. Berulang-ulang. Berkali-kali namaku
disebut. Aku mendengar mereka. Aku ingin mereka tahu itu. Tapi aku masih belum
bisa. Lagi-lagi aku hanya bisa mengeluarkan airmata. Mereka semakin histeris
bicara, memanggil-manggilku untuk bangun. Ah, kepalaku jadi ngilu.
Berdenyut-denyut. Sakit.
Terdengar
suara pintu terbuka, dan suara ibu terdengar lagi, “Dokter! Arka mengeluarkan
air mata! Apa itu tanda dia telah sadar?”
Hening. Tak
terdengar suara jawaban. Kali ini suara ayah yang terdengar, dengan pertanyaan
yang sama. Tapi masih hening, tak ada jawaban.
Saat suara
gadis yang memanggilku kakak tadi terdengar juga, dengan pertanyaan yang masih
sama, barulah terdengar suara lain. Suara wanita yang sudah berumur.
“Mungkin
dalam matanya ada debu, sehingga air matanya secara alami keluar,”
“Tapi Dok,
kalau dia menangis berarti dia sudah sadar, kan?” Ibu bersikeras.
Hening
lagi. Lalu dokter menjawab, “Mungkin begitu bila matanya terbuka. Tapi ini…”
Ah, aku
sudah sadar kok! Aku bisa mendengar kalian semua! Aku bisa mendengar dokter,
ibu, ayah dan gadis itu bicara. Aku sudah sadar, hanya saja aku tak bisa
membuka mata!
Terdengar
suara pintu ditutup, dan suara ibu menangis sesenggukan.
“Arka.
Bangun lah, Nak. Ibu ingin dengar kamu memanggil ibu. Seperti terakhir kali
sebelum…” Suara ibu berhenti sejenak, “Sebelum tawuran yang sial itu.”
Ya Tuhan. Aku ingat sekarang.
Kemarin sekolahku diserang, oleh sekawanan siswa sekolah lain. Mereka melempari
sekolahku dengan batu, membuat kaca di kelas yang paling ujung di dekat gerbang
sekolah pecah. Murid-murid perempuan menjerit-jerit, dan kami para murid lelaki
tak bisa tinggal diam.
Itu kali
pertama aku ikut tawuran. Awalnya aku tak mau, karena ibu pernah berpesan agar
aku tak boleh ikut-ikutan tradisi tawuran antar sekolah itu. Tapi karena Joyo
si ketua kelas memaksa semua murid ikut menyerang balik, aku tak bisa menolak.
Dimana harga diriku bila aku tak ikut berjuang membela sekolah? Aku tak mau
dianggap banci oleh teman-teman. Bisa-bisa aku tak punya teman lagi.
Ternyata
tawuran itu tak seseram yang dikatakan ibu. Menurut ibu, tawuran itu
membahayakan keselamatan, karena seringkali ada yang membawa senjata. Buktinya
tidak. Aku dan teman-teman merasa senang membalas lemparan batu. Aku merasa
seperti pahlawan, dapat membela sekolah kami. Dapat menghancurkan sekolah
musuh.
Menurut
ibu, orang yang ikut tawuran itu akan ditangkap polisi, karena seringkali
senjata yang dibawa pelaku tawuran itu melukai orang lain. Nyatanya tidak. Aku
dan teman-teman hanya melempari sekolah musuh kami dengan batu. Memecahkan
jendela-jendelanya, atau membuat gaduh dengan membidik atap-atapnya.
Tapi, aku
kaget saat beberapa temanku mengeluarkan bermacam-macam benda dari dalam tas
mereka. Pisau-pisau kecil, ketapel, ikat pinggang bergagang plastik keras
dengan kepala baja, senapan mainan berpeluru paku, dan… Ya ampun! Ada samurai juga!
Tentu aku
memprotes mereka, karena itu bisa melukai orang lain. Salah-salah ternyata
musuh juga membawa senjata yang sama, dan bila ada teman mereka yang terluka oleh
pihak kami, maka kami juga berkemungkinan akan dilukai. Atau bisa-bisa kami ditangkap
polisi. Tapi teman-temanku bilang, senjata itu hanya untuk berjaga-jaga.
Dan aku
panik, saat gerombolan tawuran berteriak. Saling mendekat mengacungkan senjata
masing-masing. Aku tak bergerak dari tempatku, hanya bisa menatap dengan tubuh
gemetaran. Dari kejauhan bisa kulihat satu dua orang yang berkelahi di depan sana berdarah! Berdarah!
Ibu benar!
Apa yang dikatakan ibu benar! Tawuran itu berbahaya! Aku harus segera lari,
harus! Sebelum semuanya terlambat. Aku harus segera pergi dari sini, batinku.
Tiba-tiba
terdengar sirine polisi. Aku makin panik. Bagaimana ini? Kalau aku ditangkap
juga, habislah aku. Bisa-bisa ibuku ikut dibawa-bawa. Tidak. Aku harus segera
bersembunyi! Tak sempat lagi berlari. Aku harus sembunyi!
Bisa
kulihat gerombolan tawuran itu berhamburan, berlarian ke segala arah. Sebagian
mencari gang dan rumah-rumah penduduk sekitar untuk bersembunyi. Ah, aku
bersembunyi di rumah berpagar putih itu saja. Kelihatannya tidak ada orangnya.
Mungkin tak ada yang akan menemukan kalau aku bersembunyi di sana.
Segera
kulompati pagar itu. Oh, tidak! Ada
dua orang murid sekolah musuhku tengah bersembunyi pula di sana. Tangan mereka berdarah, sepertinya
tergores pisau saat berkelahi tadi. Mereka berdiri, mengambil ancang-ancang
ingin mengejar, membuatku segera berlari. Gawat kalau sampai mereka
mendapatkanku. Bisa-bisa aku jadi bulan-bulanan. Bisa-bisa aku dilukai sebagai
pembalasan sikap teman-temanku terhadap mereka.
Ah, sekarang
aku harus berpikir puluhan kali untuk mengingat teman-temanku sebagai teman.
Mereka menjerumuskanku! Mereka menyebabkan aku mengalami hal ini. Aku tak mau
berteman dengan mereka lagi! Dan secepat kubisa aku berlari, dan berlari.
Hingga sebuah rumah tak berpagar sekonyong-konyong muncul di hadapanku.
Baiklah, aku bisa bersembunyi di sana.
Aku pasti aman dari polisi maupun musuh-musuhku.
Sesaat aku
terkesiap, saat mencari tempat bersembunyi di belakang rumah itu. Segerombolan
murid sekolah musuhku juga tengah bersembunyi di sana. Aku berusaha lari lagi, tapi mereka
memegangiku. Kepalaku dihantam sebuah benda yang keras, dan aku tak ingat
apa-apa lagi.
Kurasakan
air hangat meleleh lagi ke pipiku. Kalau begitu gara-gara tawuran itulah
sekarang aku di sini. Terbaring di rumah sakit, dengan mata tak bisa dibuka,
tangan dan kaki yang tak bisa digerakkan, dan mulut yang tak bisa berkata-kata.
Sayup-sayup masih kudengar suara isakan ibu, disertai penyesalannya membiarkanku
ikut dalam tawuran itu. Perlahan makin kabur, tapi masih kudengar ibu
menyebut-nyebut soal geger otak dan lumpuh. Dan sebelum semuanya makin kabur,
sempat kudengar ayah menenangkan ibu, dan memintanya kembali bersabar seperti
yang telah mereka lakukan lima
tahun ini, selama aku koma.
Oh, tidak! Apakah yang geger otak
dan lumpuh itu aku? Dan apakah… Aku telah lima
tahun di rumah sakit ini, membuat orang tuaku menunggu? Bukannya tawuran itu
baru kemarin? Tapi kenapa ayah bilang, lima
tahun mereka bersabar menungguku sadar dari koma? Kalau begitu… Apa suara gadis
tadi memang benar Mira, adikku yang dulu masih cadel? Ya Tuhan, benarkah
demikian…?
Air mataku mengalir lagi. Bisa
kurasakan hangatnya menjalari pipiku. Maafkan aku, ibu. Maafkan aku, ayah. Maafkan
kakak, Mira. Ah, aku ingin segera bangun dan minta maaf. Tapi mulutku terkunci,
suaraku tak keluar. Tangan dan kakiku masih tak bisa digerakkan, dan mataku
masih tak bisa dibuka. Kulakukan segala cara untuk membuat mereka tahu aku
telah sadar dan dapat mendengar mereka. Aku punya keinginan. Aku ingin segera
minta maaf, sebelum aku...
Ah, kenapa ini? Tiba-tiba rasanya
sulit bernafas. Dadaku terasa sesak. Badanku mulai terasa panas, dan rasanya
makin sulit bernapas. Ada
apa ini? Rasanya makin sesak! Nafasku habis! Aku masih ingin bicara pada
keluargaku! Aku masih ingin minta maaf!
Pasti ada yang kaget deh, ini judulnya apa-apaan sih? Atau ada yang berkomentar, aneh banget si Udin. Hoho... Well, itu judul cerpen saya yang dimuat di koran SINGGALANG, koran nasional sumatra barat, edisi Rabu 10 November 2010. Dan sesuai apa yang saya ucapkan dulu, bahwa saya tidak mau mempost cerpen sembarangan, karena takut pembajakan. Nah, berhubung yang satu ini udah tercantum hak miliknya secara resmi, maka dengan senang hati saya bersedia mempublish nya di gubuk reot ini.
You Guys! Cari posisi duduk yang enak. Siapkan minum, cemilan dan sebagainya, Coz this gonna be a long day. Hehe... Met baca ya :)
------------Si Udin Tembus------------
Si Udin Tembus!
Tak ada yang menyangka, kedatangannya malam jumat itu ke rumah bang Kasim si juragan togel membawanya kepada kebahagiaan. Empat digit nomor yang dipasangnya malam itu tembus, melahirkan dua puluh juta rupiah.