Tampilkan postingan dengan label Cermin / Flashfiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cermin / Flashfiction. Tampilkan semua postingan

April 01, 2019

Akhirnya Lamaran

Maaf gue baru bilang.
Sebenarnya ini belum terlalu lama juga sih, baru beberapa minggu. Dan gue bukannya mau sok artis atau sok penting atau gimana karena pakai rahasia-rahasiaan segala. Kemaren gue cuma merasa, emang semua orang belum perlu tau. Kemaren gue cuma merasa, adakalanya hal-hal pribadi kayak gini emang harusnya dibiarkan tetap jadi privasi, dan nggak perlu juga diumumkan ke seluruh dunia. Tapi... karena gue lagi bahagia banget jadi nggak apa-apa deh. Kebahagiaan ini harus dibagi.  Udah saatnya kalian tau.

Oktober 10, 2018

Flash Fiction : Pergi Bersama Salju


Suatu hari di bulan Oktober, aku melihat gadis itu.
Ia selalu berdiri di gerbang taman setelah senja tiba, setelah lampu-lampu jalan dinyalakan dan suasana tak lagi mencekam dalam remang. Setiap hari. Tak kenal libur. Mulanya, aku berpikir hanya kebetulan semata melihatnya di sana. Namun, akhir-akhir ini aku sadar, kalau selama ini dia memang selalu berada di sana. Setiap hari, setelah senja tiba.

"Kamu sedang apa?"
Di suatu waktu aku memberanikan diri menghampiri dan menyapa.

Ia menoleh, lalu menyunggingkan senyuman. Datar. Hambar. Sorot matanya tampak lelah dengan kehidupan. Raut wajahnya dingin, bagai suasana musim gugur yang baru saja berganti salju.

"Menunggu," Bisiknya pelan.

Februari 03, 2018

Flash Fiction : Bulan Berburu Cinta


Konon katanya, Februari adalah bulan berburu cinta. Orang-orang percaya bahwa di bulan kedua itu, semua pria dan wanita yang belum memiliki pasangan akan mencari calon-calon pasangannya se-agresif mungkin, karena hanya di saat itulah semua hati yang masih sendiri terbuka selebar-lebarnya; menanti para pemburu menemukannya.

Dan untuk ke-sekian puluh kalinya, aku harus kembali berburu.

"Jadi, kamu masih juga sendiri?" Kata Mary, sahabatku.

Oktober 31, 2017

Flashfiction : Remember Oktober


Namaku Oktober.
Dan ya, aku lahir di hari terakhir bulan Oktober, di sebuah desa pinggir lautan. Ayahku seorang pegawai rendahan di depot air minum isi ulang, dan ibuku seorang pencari kerang --yang setiap pagi mengumpulkan kerang-kerangan di pantai serta dataran pasang surut pinggir laut untuk dijual ke pengepul dari sebuah restoran Scallops di pusat perkotaan. Usiaku masih dua belasan, tapi aku telah berhenti mengecap pendidikan karena keadaan. Tapi setidaknya itu sama sekali bukanlah hal yang aku pikirkan karena aku masih punya harapan, aku masih punya impian.

Namaku Oktober.
Walaupun sangat menyukainya, tapi aku tak pernah merasakan sendiri bagaimana kebahagiaan merayakan pesta ulang tahun karena perekonomian keluargaku memang tak akan pernah bisa mewujudkannya. Dulu, aku sempat merasakan kesedihan karenanya. I mean, bocah mana yang tak sedih melihat teman-temannya merayakan ulang tahun mereka di rumahnya dalam warna warni balon, kelucuan badut, kemeriahan games, kelezatan cake serta snack bingkisan, dan oh-ya-ampun: keindahan ritual meniup lilinnya. Sementara aku, hanya di dalam mimpi dapat melakukannya. Jangankan untuk merayakannya, ayah dan ibuku bahkan tak peduli kapan aku dilahirkan ke dunia.

September 18, 2016

Flash fiction : Janji Sabtu


Malam itu sendu.
Aku tengah menunggu di bawah sisa-sisa pohon akasia favorit kita yang semakin layu; yang meringkih dipagut waktu. Kamu berjanji akan selalu menemuiku di sini setiap Sabtu, sejak 2 tahun lalu saat pertama kali kamu menyatakan perasaanmu padaku. Dan kita memang selalu berjumpa di sini setiap Sabtu, yang selalu kita habiskan bersama dalam manis nya rindu.

Dari ujung jalan kemudian kamu muncul dengan sebuah kantong plastik di tanganmu. Aku tahu bahwa kamu baru saja membelikan sesuatu untukku. Tapi aku berpura-purak tidak tahu. Aku sabar menunggu.

"Sudah seminggu, ya." Bisikmu.
Aku mengangguk pelan, tersipu.

Kulihat kamu menatap pohon di sebelahku, ragu-ragu. Ah, kenapa kamu malu-malu? Aku jadi gemas melihat berapa romantisnya sikapmu. Seperti adegan film-film yang pernah kita tonton di Sabtu-sabtu lalu. Aku yakin tak lama lagi kamu akan mengeluarkan sesuatu yang kamu beli untukku. Ya, kemudian kamu memang mengeluarkan sesuatu dari balik punggungmu. Tapi tunggu dulu, kurasa itu bukan sesuatu yang akan kamu berikan untuk ku.

"Untuk apa botol minyak tanah itu?" Tanyaku ingin tahu.

Kamu tak menjawabku. Kamu malah menuangkan semua isi botol di tanganmu ke seluruh bagian pohon yang telah lama layu itu.

"Apa yang Kamu lakukan?" Tanyaku meragu. Jangan bilang kalau kamu...

Lalu kamu menyalakan korekmu, membakar dahan-dahan tua di sampingku. Aku terpaku menatapmu, menatap ekspresi aneh di wajahmu.

"Padamkan api itu!!" Jeritku. "Cepaat!! Padamkan api itu!!"

Tapi kamu malah diam saja, menatap nyala itu.
"Istirahatlah dengan tenang, Sayangku." Bisikmu pilu, sambil menghapus air mata di pipimu. "Semoga ini bisa menghapus ingatanku tentangmu." Ucapmu. Kemudian kamu pergi meninggalkan aku dan kobaran api di sampingku.

Aku terdiam di tempatku, membisu. Teringat peristiwa yang terjadi sabtu lalu. Aku sedang di perjalanan menuju pohon itu ketika sebuah mobil dengan cepat menabrak tubuhku, membunuh aku dan seluruh penumpang di mobil itu.

Ya, baru kusadari bahwa kamu tak akan bisa lagi menepati janjimu padaku.
Karena kini aku... adalah hantu.

-End-

Februari 18, 2016

Flashfiction : Makan Tuh Cinta!


Sumber gambar : di sini


     "Fyuhh.."

     Lelaki di sebelahku menghembuskan nafas, keras. Aku tertawa, lalu bertanya kenapa belakangan ia selalu melamun ketika datang berkunjung ke rumahku.

     "Biasa, masalah cinta." Ujarnya dengan nada lelah.
     "Makan tuh cinta!" Ledekku, dengan kata-kata yang sama--yang akhir-akhir ini selalu ku lontarkan padanya. Lalu aku kembali tertawa.

     Ia menunduk dan kelihatan seperti berpikir keras, sama sekali tidak terhibur dengan leluconku. Kai, sahabatku yang satu ini memang kurang humoris, kurang romantis, kurang optimis dan terlalu realistis. Ia seperti tokoh-tokoh introvert di film thriller ketika sedang punya masalah. Sering bermenung, tampak bingung dan murung. Aku kasihan padanya. Segala cara telah kucoba untuk membuatnya tertawa tapi sia-sia belaka.

     Ditolak memang menyakitkan, tapi ditolak sampai ia tak pernah ditemui lagi tentunya pasti jauh lebih menyakitkan. Ya, gadis yang ia sukai itu dulu sangat akrab dengannya, sampai hari dimana Kai menyatakan perasaannya. Gadis itu menjauh, menghindari Kai dengan berbagai cara seolah jijik untuk bertemu dengannya lagi. Celakanya, ia tak dapat Move On dari cinta pertamanya. Kai pasti terluka.

     Dua hari kemudian, Kai kembali datang ke rumahku. Tapi dengan wajah yang berbeda. Ia tak lagi murung seperti yang akhir-akhir ini sering kulihat. Ia tampak ceria dengan seulas senyum tersungging di bibirnya. Wajahnya tampak merah merona. Jauh lebih merah dari yang pernah kulihat sebelum-sebelumnya.

     "Dyo, Akhirnya Aku berhasil melakukannya." Bisiknya.

     "Move on?" Tanyaku.

     Ia menggeleng. Dan sebelum aku mengerti lebih jauh apa maksud perkataanya, sebuah potongan lengan penuh darah menyembul dari saku sweaternya dan jatuh tergeletak lunglai di lantai. Potongan lengan gadis yang ia cinta.

November 30, 2014

Flashfiction : Bukit Cinta

 Oleh : Aul Howler



    Katanya, bila sepasang kekasih menyatakan perasaan di bawah pohon satu-satunya di puncak bukit Liefde, maka semesta alam akan melindungi cinta mereka, membuatnya bertahan lama dan hanya maut yang sanggup memisahkan. Kudengar itu dari buku mitologi kebudayaan leluhur kami.

     Pecinta mana yang tak mendambakannya?

    Pagi ini adalah kali ketiga aku meminta Charlotte untuk menemuiku di puncak bukit. Ia tak tahu apa-apa mengenai mitos itu, membuat ku leluasa untuk mengajaknya tanpa menimbulkan rasa curiga. Dan ia selalu memenuhi permintaan ku. Walaupun setelah dua kali mencoba, aku selalu tak berhasil menyatakan perasaanku padanya. Aku ragu. Aku malu.

     "Sepertinya Kau amat menyukai tempat ini, ya?" tanya Charlotte.
     "Eh, iya.." jawabku terkejut. "Kenapa?"
     "Yah... ini sudah kesekian kalinya Kau mengajakku ke sini."

     Aku menunduk dengan pipi merona. Aku takut ia tahu apa alasanku yang sebenarnya. Tapi aku tak boleh membiarkan gadis ini mulai menerka-nerka apa tujuanku sering memintanya menemuiku di sini. Aku harus berhasil menyatakan perasaan ku padanya hari ini juga!

     "Charlotte.. Aku.. eh.. Aku sebenarnya..."
     "Apa?"
     "Aku... Aku memendam cinta. Padamu."
     "Maksud Mu?"
     "Aku ingin... Aku ingin kau mau menjadi kekasihku."

     Charlotte membelalakkan mata, tampak terkejut dengan apa yang kusampaikan padanya. Jantungku berdegup lebih kencang, melebihi hentak kaki Thor saat mengamuk di ujung samudera tempo hari. Tapi aku berusaha tenang, karena hal ini konon selalu terjadi setiap kali ada pasangan yang menyatakan cinta di bukit ini. Aku mengalihkan pandangan ke hamparan bebatuan cadas raksasa yang menyusun bukit terjal in agar wajahku tak merona di depan Charlotte.

     "Tapi... Kita tidak mungkin bersama..." bisik Charlotte.
     "Kenapa Charlotte? Kenapa?" potongku tak sabar.
     "Karena kau bukan seorang pria, Lidya. Aku tak bisa."

     Aku murka dan tak ingat melakukannya. Yang aku lihat setelah itu, tubuh Charlotte telah tergeletak tak bernyawa di salah satu ujung lancip batu cadas di kaki bukit Liefde.

     Ini jalan terakhir. Aku yakin semesta akan melindungi cintaku padanya.

-THE END-

*Telah dipublikasikan juga di majalah online kami, AOMAGZ.

April 23, 2014

Flash Fiction : Titisan


      “Aku adalah titisan Chairil Anwar!” katamu suatu hari.

     Kala itu aku tak tertarik untuk mengomentarimu. Kau sudah terlalu sering mengatakan hal-hal aneh. Paling tidak, begitulah kesimpulanku sebagai orang terdekatmu selama beberapa tahun ini. Kau pernah mengaku bertemu  aristoteles di toilet asrama. Kau bahkan juga pernah mengaku diutus neptunus lewat radarnya.

     Dan biasanya kau akan lupa dengan semua yang kau ucapkan dalam beberapa jam. Aku rasa aku sudah terbiasa untuk mengabaikannya. Seharusnya aku juga tak perlu mengabaikan ocehanmu kali ini. Cukup masuk akal, bukan?

     Tapi entah kenapa, kau mulai terasa agak berbeda. Kau mengulangi kalimatmu berkali-kali. Berhari-hari. Bahkan kalimatmu tak lagi sebatas “Aku adalah titisan Chairil Anwar!”. Tapi kau juga sudah menyebut-nyebut dirimu sebagai binatang jalang dari kumpulan yang terbuang. Kau bahkan bilang ingin hidup seribu tahun lagi! Brrrr....

     Yang kusesali, aku terlambat menyadari bahwa kau mulai kesetanan. Kau harus kembali ditahan. Aku terlalu terbiasa mengira bahwa kau cuma sedikit aneh karena kecanduan mendengar buku-buku yang kubaca. Aduh. Kenapa aku tak mencegahmu saat kau memecahkan jendela lantai lima dan melompat—lalu mati seketika?

     Harusnya aku tak mengajakmu kabur dari rumah sakit jiwa.
     Harusnya aku tak membohongimu—mengatakan kau itu titisan pujangga.
     Harusnya mama tak ditempatkan di sel sebelahmu, Raka..

Desember 11, 2013

Flash Fiction : Teoriku Tentang Cinta


     Dulu, kau bilang bahwa tak mungkin kita berhubungan. Lalu kukatakan bahwa tak ada yang tak mungkin. Dan kata-kata itu bagaikan mantra untukku—yang membuatku tetap berjuang hingga tanpa terasa kita bisa bersama sampai lebih dari 5 tahun. Aku punya teori tentang cinta: Di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan. 

            “Kapan kita menikah?” Tanyaku di suatu malam.
            “Tak mungkin kita menikah,” Ujarmu.

      Lagi-lagi kata itu. Ah aku benci kata itu.

            “Tak ada yang tak mungkin, ingat? Memangnya Kau tak cinta lagi padaku?”
            “Masalahnya bukan itu, tapi…”
            “Apa?”
          “Ini soal restu Ibuku.” Ujarmu dengan nada menyerah. “Aku tak mau membantah ibuku. Kau kan tahu bahwa ia menderita penyakit jantung sejak ayahku meninggal tahun lalu.”

     Ya. Tentu saja aku tahu. Semua orang juga tahu hal itu. Ayahmu meninggal di tengah jalan dengan kondisi mengenaskan. Kepalanya putus, tengkoraknya pecah  dan otaknya hancur berserakan di atas aspal. Istri mana yang bisa tahan mengetahui hal itu. Bahkan ia masih beruntung hanya sakit jantung setelah kejadian itu.

     Aku mencoba menerima alasanmu, walaupun ada rasa perih di hatiku. Aku pasti bisa, walaupun ini sangat menyakitkan untukku.

    Hingga suatu hari dikabarkan ibumu meninggal di tengah jalan dengan kondisi mengenaskan. Kepalanya putus, tengkoraknya pecah dan otaknya hancur berserakan di atas aspal. Anak mana yang bisa tahan mengetahui hal itu. Kurasa kau sangat terpukul, sampai kau bahkan tak mau lagi menemuiku selama berminggu-minggu. Aku tetap sabar menunggu.

     Akhirnya malam itu kau datang. Dengan wajah yang terlihat sangat tenang. Aku senang. Aku yakin kau membawa berita bagus bagiku. Kuyakin kita akan segera bersatu karena di antara kita tak ada lagi ibumu.

            “Jadi kapan kita menikah?” Tanyaku dengan senyum sumringah.
            “Tak mungkin kita menikah,” Ujarmu.

     Lagi-lagi kata itu. Ah betapa aku membenci kata itu.

            “Tak ada yang tak mungkin, ingat? Memangnya Kau tak cinta lagi padaku?”
            “Masalahnya bukan itu, tapi…”
            “Oh, apa lagi sekarang?”
            “Ini soal orang tuaku.” Ujarmu dengan ringan.
            “Orang tuamu?”

          “Kau ingat kan, dulu ayahku melarang hubungan kita? Kau ingat kan, ibuku juga tak merestui hubungan kita? Akhirnya aku tahu apa alasan mereka,”
            “Apa?”
       “Mereka sudah menjodohkanku.” Ujarmu dengan senyum sumringah. “Mereka sudah merencanakan perjodohan ini sejak umurku baru 15 tahun. Aku tak bisa menolaknya. Ini keinginan terbesar orang tuaku.”

     Aku mencoba menerima alasanmu, tapi ternyata aku tak bisa. Ini terlalu menyakitkan untukku. Lebih menyakitkan dari alasan-alasanmu sebelumnya.

     Lalu semuanya terjadi begitu cepat. Aku tak ingat apa-apa lagi kecuali saat-saat di mana aku memegang kedua pipimu, mencium keningmu dengan berurai air mata, dan membanting kepala putusmu yang telah pecah tengkoraknya hingga otakmu hancur berserakan di atas aspal. Dan aku tertawa bahagia setelahnya.

     Cintaku yang dulu juga bilang bahwa tak mungkin kami berhubungan. Lalu kukatakan bahwa tak ada yang tak mungkin. Dan kata-kata itu bagaikan mantra—yang membuatku tetap berjuang hingga berhasil kabur dari penjara sekaligus rumah sakit jiwa karena menurut mereka aku adalah psikopat berbahaya yang sudah gila.

     Lihat? Teoriku tentang cinta telah terbukti kebenarannya. Di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan…

\\Click here to leave comments in classic comment form (Full page)\\