Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Maret 19, 2019
Juli 31, 2016
Kupu-kupu Senja
Suatu hari di bawah langit jingga
Paduka raja memagut rindunya kala surya menua
Kenapa ia?
Kenapa perempuan itu pergi darinya?
Kenapa kupu-kupu bisa berterbangan tanpanya?
Lalu semilir angin berkata : "Kalian akan bersama"
Lalu rumput-rumput menarikan spora-spora
Dan kupu-kupu mengepak-ngepak diantara bias-bias cahaya
Menyirami raga dahaga dengan tetesan cinta
[Perempuan itu] kembalikah ia?
Apakah masih lama?
Apakah butuh seabad lagi untuk berjumpa dengannya?
Paduka raja memagut rindunya kala surya menua
Kenapa ia?
Kenapa perempuan itu pergi darinya?
Kenapa kupu-kupu bisa berterbangan tanpanya?
Lalu semilir angin berkata : "Kalian akan bersama"
Lalu rumput-rumput menarikan spora-spora
Dan kupu-kupu mengepak-ngepak diantara bias-bias cahaya
Menyirami raga dahaga dengan tetesan cinta
[Perempuan itu] kembalikah ia?
Apakah masih lama?
Apakah butuh seabad lagi untuk berjumpa dengannya?
Mei 09, 2015
Puisi : Tetap Terbanglah
Hari itu basah
Resah
Dingin menggigilkan siang
Telah turun tirai langit, membawa petang
Pulang
Seekor capung singgah
Hinggap dalam lelah
Dalam rindu yang tak kunjung bertemu ujung
Ia bingung mematung
Menggengam janji-janji pekat
Erat-erat
Tapi Ia tetap jatuh
Cinta itu rapuh kala hati tak utuh berlabuh
Haruskah aku terus mengepak?
Tetap terbang meski sulit mengelak jarak?
Harus, bisikmu
Lalu begitu saja aku yakin padamu
Ini belum akhir yang kita tuju
Kita harus terus melaju
Akan tiba hari itu
Kala rindumu menemukan rinduku
Tak kan lagi basah
Tak kan lagi resah
Satu capung lagi kan singgah
Tunggulah
Padang, Mei 2015
P.S.
Udah lumayan lama juga ya, saya nggak nulis beginian. Kangen :)
Kusutnya pikiran saya beberapa bulan ini membuat saya sangat malas. Sepertinya saya harus lebih sering menulis lagi deh. Saya tidak boleh membiarkan daratan imajinasi di kepala saya mengering dan berdebu lalu usang. Terima kasih pada salah satu blog di internet (lupa link nya). Berkat tulisannya yang indah, saya jadi tersentuh untuk menulis puisi lagi. Walaupun puisi saya masih saja cupu, jelek, gersang dan tidak punya nilai sastra. Tidak indah seperti karya para pujangga. Tak apalah yang penting berhasil tertulis hitam di atas putih hehe..
Sumber gambar : Google
Desember 14, 2014
Puisi : Bintang Jatuh
Titik-titik bercahaya di atas sana menyapaku
Kala hari menua
Kala usainya senja
Namun aku sibuk mengejar bayang mu, di dalam benak ku
"Belum tentu ia juga memikirkanmu!"
Lalu langit tertawa mencela
Dan terjadi seketika, begitu saja tanpa jeda
Sebuah titik cahaya jatuh
Tapi aku masih sibuk, mengaduk memori tentangmu
Mana bisa, mana ku punya kuasa untuk lupa
Rasa jatuh cinta pertama kita
"Tidak kah kau lihat elok sosokku saat menghujan ke bumi mu?"
Bintang jatuh mengeluh
Langit mengernyit
Aku beku
Ingat Padamu
Apa di tempat lain nun jauh di sana, kamu juga melihat bintang yang sama?
Oktober 14, 2013
Kau bilang tunggu..

Kau bilang tunggu. Aku tunggu. Saat lagi-lagi kuhampiri, kau bilang tunggu. Lagi. dan lagi. dan lagi. Kau bilang tunggu. Aku tunggu. Selalu ku tunggu. Dalam pilu. Dalam beku. Dalam rindu yang menggebu. Meski siang datang, aku tetap menunggu. Meski pagi kembali, aku tetap menunggu. Meski anganku berputar liar, "Bagaimana kau di sana?". Aku tetap menunggu. Meski hatiku mendesah resah, "Apa kau baik-baik saja?". Aku tetap menunggu. Ini terlalu lama, sesungguhnya. Puluhan gelas kopi menemaniku. Puluhan ruang-ruang kosong bersamaku. Aku mulai ragu. Tapi kau bilang, "Tunggu!". Baik. Aku tunggu.
P.S.
Hanya tulisan random (mirip puisi?) yang tak sengaja tercipta kala menunggu. Kenapa tidak dipublish di sini. Hehe. Anyway, Selamat Hari Raya Idul Adha 1434 H buat teman-teman yang merayakan! :)
P.S.
Hanya tulisan random (mirip puisi?) yang tak sengaja tercipta kala menunggu. Kenapa tidak dipublish di sini. Hehe. Anyway, Selamat Hari Raya Idul Adha 1434 H buat teman-teman yang merayakan! :)
\\Click here to leave comments in classic comment form (Full page)\\
April 30, 2013
Burung Linglung Terkurung

Rinduku melentera: seiring berlarian dalam relung benakku kepingan-kepingan masa lalu yang kita ciptakan dulu, kala kau dan aku bersama selalu [membuat waktu cemburu]. Rindu ini mengarus, menghanyutkanku dari bangku di hadapan jendela yang sendu ke saat-saat penuh suka duka dan haru denganmu. Aku bagai burung linglung terkurung, termenung dalam tabung berselubung. Aku menunggu kembalinya jemarimu ke jarak pandangku, menunggu kau membuka tutup tabung itu dan membebaskanku [lalu menyambutku] bersama sepotong senyum yang menggantung di antara dahi dan dagumu.
Januari 12, 2013
Buk... Buk... Buk...
Rasanya, sudah sekian lama tanpa puisi.
Here it is. Sebuah puisi berjudul :
Buk... buk... buk...
Wanita lapuk, menumbuk
Tersuruk di lubuk hidup buruk
Meski batuk, huk.. huk..
Tetap menumbuk
Sampai bubuk
Here it is. Sebuah puisi berjudul :
Buk... Buk... Buk...
Oleh : Aul H
![]() |
| source |
Buk... buk... buk...
Wanita lapuk, menumbuk
Tersuruk di lubuk hidup buruk
Meski batuk, huk.. huk..
Tetap menumbuk
Sampai bubuk
Buk... buk... buk...
Berkain busuk, menumbuk
Jerih terpeluk
Bungkuk di biduk penuh cambuk
Meski ngilu menusuk-nusuk
Tetap menumbuk
Sampai ambruk
Padang, Desember 2012
September 14, 2012
Cinta di Kelopak sakura
![]() |
Aku adalah cinta:
Nan meringkuk tertidur di gelap kuncup-kuncup menutup; nan berselimut dalam takut akan lenyap terbalut kabut; nan tersembunyi di antara sari-sari pagi--menanti matahari [menghangatkan bumi] sembari menyemangati setiap kaki agar berlari selama musim semi menebar rindu ke setiap hati. Akankah mereka kuasa [seorang diri] karena cinta [acapkali] terbagi?
Juli 01, 2012
Aku. Kamu. Kita.
Oleh: Aul Howler
![]() |
| sumber : http://www.flickr.com/photos/cake-face/3895236416/ |
Haruskah ku eja lagi dan lagi agar benakmu mengingatnya selalu? Debarmu adalah debarku. pilumu adalah piluku. bahagiamu adalah bahagiaku. sedihmu adalah sedihku. sukamu adalah sukaku. dukamu adalah dukaku. harumu adalah haruku. laramu adalah laraku. tangismu adalah tangisku. dan senyummu adalah senyumku.
Haruskah ku kisahkan lagi dan lagi agar bibirmu mengembang selalu? Saat kau sendu, aku akan di sampingmu [menemanimu]. Saat kau ragu, aku akan di sebelahmu [meyakinkanmu]. Saat kau beku, aku akan di hadapmu [mencairkanmu]. Saat kau layu, aku akan di sisimu [menguatkanmu]. Dan saat kau rindu, aku akan ada untukmu [selalu].
Juni 08, 2012
Aku Rindu. Aku Rindu
Oleh: Aul Howler
Aku Rindu. Aku rindu hangat senyummu kala lidahku menggetarkan untaian kisah-kisah jenaka nyata sesampai raga bernaung di bawah atap yang sama, dalam jumpa sore seusai pesta dengan buku-buku sejak matahari beringsut naik dari tempatnya semalaman menunggu. Mataku pun merindu sekali dua kali [saat-saat lucu] lalu pecah tawamu diantara legit senyum-senyum itu. kau tahu?
April 19, 2012
Senja Menangis
Maret 27, 2012
Biar Getir Mengalir [bersama butir-butir air]
![]() |
Kau tahu. Kadang pelangi tak selalu bersama ketujuh warnanya--setidaknya [di setiap] ketika hujan telah lelah turun-- dan menghilangkan gundah ratusan pasang mata di belakang jendela-jendela. Ya. Kadang ia kehilangan biru di antara mega-mega kelabu yang riang melayang-layang di celah-celah langit sore [pun terkadang ia mencari-cari keberadaan ungu] di antara butir-butir air. Lalu getir, merasa ada yang berbeda [tak seperti biasanya] ia tak tahu.
Kau lihat. bumi yang bulat masih ingin dibasahi, kala seniman-seniman jejak di jalan-jalan setapak bersorak--berharap tetes demi tetes rindu dari langit berhenti membuat riak [di genangan-genangan cinta. terabaikan. begitu saja] mengaharu biru dalam ragu. Andai waktu [bisa dibalik] bagai lembar-lembar dalam buku, tentu aku [dan kamu] bisa tahu lebih dulu. Lalu getir, biar saja mengalir.
Sumber gambar : http://favim.com/image/333559/
Februari 26, 2012
Ini Terlampau Sering Terjadi, Kan?
Ini terlampau sering terjadi, kan? Kala jemariku menggenggam erat roti tawar bertabur rindu di kedua sisinya namun benakku mendamba pizza dengan saos tomat dan kacang dengan parutan cinta; di sela-sela duka panggang setengah matang. Kehendak akan yang mustahil direngkuh, sementara punya yang bisa didekap erat..
Januari 30, 2012
Langit Merindu Rindu
Oleh : Aul Howler
![]() |
Mungkin aku terdengar konyol saat bibirku bergetar [bagai senar yang melintangi gitar] membualkan kerinduan langit akan tetes-tetes haru dari mata-mata pelahap cinta seperti aku dianggap konyol kala mendeklamasikan puisi duka dengan mawar merah dan kue coklat bentuk hati. Tapi sungguh, tiada maksud terselubung atau pukulan tersembunyi dalam kisahku akan langit merindu itu. Percayalah.
Karena hampir semua rindu telah kau jaring untuk dirimu sendiri dalam keegoisan [kurasa begitu] tanpa peduli ada yang lain yang mendambakannya layaknya gurun mendambakan genangan sejuk oasis atau pemburu yang telah lelah menenteng senapan angin dan tak kunjung menyaksikan auman beruang liar di hutan-hutan pegunungan. [Setidaknya] bagi lah sedikit: Lepaskan beberapa jumput untuk gurun dan pemburu itu. atau untukku, bila kau mau?
Sumber gambar : http://media.photobucket.com/image/photography%20sky/crash_x_BURN3/photography/sky.jpg?o=42
Januari 22, 2012
Cepatlah Pulang!
Oleh : Aul Howler
![]() |
| picture from Google |
Aku tak sabar. Melihat helai-helai rambut mu bergoyang-goyang dijilat angin manakala kau berlari meninggalkan kenyataan―dan mengejarku― membawa serta sekeranjang rindu dan biji-biji harapan yang nanti akan kita tanam bersama di taman haru. Lalu kau akan memanggil nama kesayanganku dengan tawa lega layaknya tersangka yang tak jadi disandra saat aku―melambai― beberapa kaki dari tempatmu berpijak. Itu pasti menyenangkan, kau tahu.
September 26, 2011
Menunggu: Aku Tak Suka Itu
Soo Bussy.
I'll post something in my journals soon.
Now, whut about a poem?
Kau bilang hendak memberiku kunci untuk membuka gerbang di langit waktu depan kita. Dan kau berjanji akan terbang ke sana, bersamaku, membawa serta relief-relief cinta yang kita ukir bersama dalam rindu, resah, haru dan gundah gelisah. Tapi hingga lumut bersarang di dahan terakhir tempatku bertengger dan aku menggigil digigiti dingin: Kau tak datang. Pun aku menunggu dengan sabar. Aku tak suka itu, kau tahu. dimana kau?
Kau berkata pasti datang secepat kilat yang menyambar menara tua di ladang tempo hari, dengan gaun seperti tuan putri zaman edo di zaman sejarah Tokyo. Kita akan menapaki jalan berbatu dan berpasir itu lalu terbang tinggi, bersama, seperti layaknya sepasang burung hantu, bergerak perlahan dalam keanggunan. Demikian kata terakhirmu. Tapi hingga kini aku masih sendiri, di sini. Menunggu: aku tak suka itu, kau tahu.
Kau takut? Kau kehilangan rona percaya diri?
Kau meyakinkanku kala itu, bahwa sayapmu ada untuk mengepak bersama sayapku: Bahwa kita saling melengkapi tak ubahnya awan dan hujan. Kini aku menunggu, pun kau tak kunjung datang. Aku tak suka itu, kau tahu. Tak jadikah kau ke sini? apa kau akhirnya bimbang memilih?
I'll post something in my journals soon.
Now, whut about a poem?
Menunggu: Aku Tak Suka Itu
Kau bilang hendak memberiku kunci untuk membuka gerbang di langit waktu depan kita. Dan kau berjanji akan terbang ke sana, bersamaku, membawa serta relief-relief cinta yang kita ukir bersama dalam rindu, resah, haru dan gundah gelisah. Tapi hingga lumut bersarang di dahan terakhir tempatku bertengger dan aku menggigil digigiti dingin: Kau tak datang. Pun aku menunggu dengan sabar. Aku tak suka itu, kau tahu. dimana kau?
Kau berkata pasti datang secepat kilat yang menyambar menara tua di ladang tempo hari, dengan gaun seperti tuan putri zaman edo di zaman sejarah Tokyo. Kita akan menapaki jalan berbatu dan berpasir itu lalu terbang tinggi, bersama, seperti layaknya sepasang burung hantu, bergerak perlahan dalam keanggunan. Demikian kata terakhirmu. Tapi hingga kini aku masih sendiri, di sini. Menunggu: aku tak suka itu, kau tahu.
Kau takut? Kau kehilangan rona percaya diri?
Kau meyakinkanku kala itu, bahwa sayapmu ada untuk mengepak bersama sayapku: Bahwa kita saling melengkapi tak ubahnya awan dan hujan. Kini aku menunggu, pun kau tak kunjung datang. Aku tak suka itu, kau tahu. Tak jadikah kau ke sini? apa kau akhirnya bimbang memilih?
Juni 01, 2011
Sayap-Sayap Peri
Long time no write poems (puisi).
Since last April right? Sooo, I think it's better if i post some (or one) now in this my home sweet home.
Enjoy! :)
Waktu itu kau dan senyummu menceritakan aku sebuah dongeng tentang sayap-sayap peri yang berkilauan yang mengepak-ngepak bersama kebahagiaan di setiap pendar cahayanya. Lalu kau membual tentang sayap-sayap yang sama padaku -- di punggungku yang mungil ; Membuatku tertawa bahagia bersama angin senja kala burung-burung kenari pulang ke sarang membawa biji di paruhnya untuk telur-telurnya yang esok menetas.
Kau bilang padaku, saat aku mengepak terbang rendah di atas rumpun-rumpun dandelion aku menerbangkan parasut-parasut mereka ke udara. Kau pun bilang setiap kepakan ku membuat padang rumput yang kulewati berkilau juga, membuat belalang dan kunang-kunang kehilangan pesona yang telah mereka tebarkan di setiap lembar dedaunan dan ujung-ujung dahan kering kerontang semenjak pagi masih buta. Aku tak yakin, sedikitpun.
Bilamana jemarimu mengusap punggungku penuh kasih oh ibu, kehangatan menjalar-jalar liar serasa setiap jejak jemarimu terbakar, dan aku merasa benar-benar akan mencuat sepasang sayap peri di punggungku, dan mengepak-ngepak seperti ceritamu kala itu. Apakah benar kan kudapat sayap-sayap peri itu? Ataukah itu hanya sayang yang kau buang di telingaku untuk mengantarku tidur dan berlari-lari segera ke dalam mimpi-mimpiku?
Since last April right? Sooo, I think it's better if i post some (or one) now in this my home sweet home.
Enjoy! :)
Sayap-Sayap Peri
Waktu itu kau dan senyummu menceritakan aku sebuah dongeng tentang sayap-sayap peri yang berkilauan yang mengepak-ngepak bersama kebahagiaan di setiap pendar cahayanya. Lalu kau membual tentang sayap-sayap yang sama padaku -- di punggungku yang mungil ; Membuatku tertawa bahagia bersama angin senja kala burung-burung kenari pulang ke sarang membawa biji di paruhnya untuk telur-telurnya yang esok menetas.Kau bilang padaku, saat aku mengepak terbang rendah di atas rumpun-rumpun dandelion aku menerbangkan parasut-parasut mereka ke udara. Kau pun bilang setiap kepakan ku membuat padang rumput yang kulewati berkilau juga, membuat belalang dan kunang-kunang kehilangan pesona yang telah mereka tebarkan di setiap lembar dedaunan dan ujung-ujung dahan kering kerontang semenjak pagi masih buta. Aku tak yakin, sedikitpun.
Bilamana jemarimu mengusap punggungku penuh kasih oh ibu, kehangatan menjalar-jalar liar serasa setiap jejak jemarimu terbakar, dan aku merasa benar-benar akan mencuat sepasang sayap peri di punggungku, dan mengepak-ngepak seperti ceritamu kala itu. Apakah benar kan kudapat sayap-sayap peri itu? Ataukah itu hanya sayang yang kau buang di telingaku untuk mengantarku tidur dan berlari-lari segera ke dalam mimpi-mimpiku?
Padang, June 1st 2011
April 15, 2011
Examination
Examination
Hanya beberapa helai, kawanku...
Bernoda huruf dan angka dan gambar dan simbol-simbol...
Apa hebatnya?
Ya, menghajar hingga nanar...
Ya, menusuk hingga remuk...
Ya, menggigit sungguh sakit...
Hingga tak berdaya bangkit...
Hanya beberapa ilmu, kawanku...
Berhitung dan mengeja dan menerka dan mengira...
Apa hebatnya?
Ya, memiting hingga pusing...
Ya, menampar hingga terkapar...
Ya, mengiris membuat meringis...
Hingga jatuh segala tangis...
Hanya itu, kawanku...
Tak lebih...
Lindungi dan lawan dengan apa...?
Perisai... Tameng... Pedang... Parang...!!?
Tidak...
Cukup dengan buku dan doa saja...
Percaya...??
P.S
Anyway, beberapa hari yang lalu di jam pelajaran bimbingan dan konseling, guru saya memberi instruksi untuk membuat gambar tentang perasaan kita terhadap UN. Dan saya membuat coretan di bawah ini:
Ibaratnya, yang naik sapu itu saya (virus Harpot tak bisa hilang :). Dan UN itu menghantui, mengejar-ngejar, membuat saya tidak nyaman... Belum lagi BELAJAR yang terus menerus (terpaksa) menyambar-nyambar. Kalau saya malas atau menyerah lalu melompat, bakal hanyut atau tenggelam.
SOO, I'M TRAPPED.
Sekian Update menjelang UN. DUA HARI LAGI!!!
Do'akan saya....!!
LULUS!
-Amin-
Maret 06, 2011
Dalam Keremangan Cinta
Sebuah Puisi berjudul:
Dalam Keremangan Cinta
Aku tersesat...
Dalam jalan penuh tikung dan simpang, dan belok-belok tajam dan tanjakan dan turunan. Jalan-jalan cinta.
Aku tersangkut...
Dalam dahan-dahan yang tak yakin, dan cabang tak pasti dan ranting-ranting meruncing meragu, dan akar-akar bimbang. Benih-benih cinta.
Aku terjebak...
Dalam sarang licin berdebu, dan keramba-keramba layu, dan sangkar-sangkar kayu merindu, dan cangkang-cangkang berbulu penuh batu. Jaring-jaring cinta.
Aku hilang arah...
Dalam gunung cemburu yang ringkih, dan berlumut, dan belantara rindu berselimut kabut, dan gurun dusta memerih.
Dalam bayang-bayang cinta...
Dalam keremangan cinta...
Dalam jalan penuh tikung dan simpang, dan belok-belok tajam dan tanjakan dan turunan. Jalan-jalan cinta.
Aku tersangkut...
Dalam dahan-dahan yang tak yakin, dan cabang tak pasti dan ranting-ranting meruncing meragu, dan akar-akar bimbang. Benih-benih cinta.
Aku terjebak...
Dalam sarang licin berdebu, dan keramba-keramba layu, dan sangkar-sangkar kayu merindu, dan cangkang-cangkang berbulu penuh batu. Jaring-jaring cinta.
Aku hilang arah...
Dalam gunung cemburu yang ringkih, dan berlumut, dan belantara rindu berselimut kabut, dan gurun dusta memerih.
Dalam bayang-bayang cinta...
Dalam keremangan cinta...
Februari 11, 2011
TAWA MALAM SANG PENYAIR
Sebuah Puisi (atau sampah bagi anda? Karna sejujurnya saya tidak yakin coretan yg saya tulis sebelum tidur beberapa hari yang lalu ini adalah sebuah puisi :))
TAWA MALAM SANG PENYAIR
Senja berdarah...
Nyawa-nyawa gembira meletus bersama balon-balon ulang tahun penyair tempo hari.
Duduk memangku tangan dan lamunan yang berterbangan dalam terang bagai kunang-kunang.
Hahaha. Sang penyair tertawa dalam suka dan perutnya bergolakmenggempa di beranda pondok berderak-derak.
Nyawa-nyawa gembira meletus bersama balon-balon ulang tahun penyair tempo hari.
Duduk memangku tangan dan lamunan yang berterbangan dalam terang bagai kunang-kunang.
Hahaha. Sang penyair tertawa dalam suka dan perutnya bergolakmenggempa di beranda pondok berderak-derak.
Langganan:
Postingan (Atom)



















