December 31, 2010

Junn Series #3 - Unpredictable MOS!

You Guys!
     Lama tidak blogging ya. Nyaris sepuluh hari!! hoho...
Maaf deh, abisnya pergi liburan ke pelosok gunung. Mau OL loadingnya parah lama banget...
Celakanya, beberapa tetangga udah "ENEGG" sama saya, gara-gara nggak kunjung update dan gak bales komentar-komentar mereka.

    Salah satu komentar yang paling berkesan buat saya nih...
JRENG... JRENGG... JREEENG....
Congratulations and Thanks to Bang Fai Si Lelaki Aneh

fai mengatakan...
DUHHHHH dah khatam deh sama postingan ini, buat yang baru donggggggggggggggg
(hehe,,, nggak nyangka sampai segitunya. Jadi terharu nih, ternyata blog jelek mampus kayak punya saya ini ada juga yang mau nungguin update... :)

And, This is it! Saya post cerbung saya ( Yang Alhmd hingga sekarang masih terus dimuat di koran ). Enjoyed it!


   Ringkasan Cerita Sebelumnya: 

Junn dan Riri terlambat sekolah di hari pertama mereka. Gerombolan senior OSIS  berhasil menangkap mereka, da telah berencana mnjatuhkan hukuman. Tetapi, ketua OSIS yang baik menyelamatkan mereka.


 -----Junn Series #3 – Unpredictable MOS! -----

     “Hufftthh…” Gadis di sebelah Junn mendesah.
     “Kenapa, Ri?” Junn berkomentar sambil meniup dahinya. Empat jam pelajaran untuk Matematika dan Fisika membuat ujung jilbabnya mulai melorot.
     “Bernafaslah selagi bisa. Sebentar lagi saatnya,” Teman sebangkunya itu berkata dingin.
     Dan sebelum Junn sempat bertanya apa yang dimaksud Riri, hal itu terjadi.
     “TEEEEEEEEEETTTTTT…!!!”

     Sebuah sirine menggema ke seluruh sekolah. Suaranya dalam dan pilu ―seperti dari dunia lain― membangkitkan bulu roma siapa saja yang mendengarnya.
     “PESERTA MOS BERKUMPUL DI LAPANGAN UTAMA DENGAN AKSESORIS LENGKAP. HITUNGAN MUNDUR SAMPAI NOL DARI DUA PULUH, SEMBILAN BELAS…”
      Suara keras mike yang bersumber dari ruang OSIS itu menendang semua orang untuk segera kasak-kusuk, mengenakan aksesoris berupa kalung berhias petai, jubah kantong kresek besar, rok dedaunan, gelang dari ranting, topi karton, plus dot bayi. Menurut buku MOS, tema tahun ini adalah penyihir.Tapi, Junn merasa yang dikenakan semua siswa baru lebih mirip kostum jin atau dedemit.

     Barisan itu pun tersusun rapi saat senior berambut cepak ―Yang ingin menghukum Junn saat terlambat kemarin― menyorakkan isyarat siap. Beberapa gadis di depan Junn berbisik-bisik, bahwa senior itu yang paling galak, dan bernama Alev. Junn tersenyum geli. Nama senior itu ternyata seaneh orangnya.

     Dan hari kedua MOS itu pun berlalu sangat lama. Belasan murid baru yang menurut para senior bersalah telah mendapat jatah. Rata-rata dipermalukan dan dibuat merah mukanya. Murid laki-laki yang saat ini dikerjai Alev malah sampai menangis segala, gara-gara dipaksa buka seragam untuk memperlihatkan panu di perutnya. Sadis.

     Kalau saja Riri tidak menahan-nahannya, Junn sudah mengamuk dari tadi, tak rela menyaksikan kekejaman di hadapannya.

     Meski demikian, agaknya Alev menangkap gelagat Junn. Sebentar ia berbisik kepada rekannya, kemudian ia berbicara di balik pengeras suara. “Murid baru yang ingin menyampaikan sesuatu kepada cowok ini diberi kesempatan bicara. Ada yang mau?”

     “SAYA MAU BICARA!!” Junn berteriak dari tengah kerumunan penonton di lapangan.
Alev tersenyum simpul. Rencananya menjaring Junn berhasil. “Wah, wah… Kamu mau bicara apa gadis kecil?” Ujarnya menyindir. Dikepalanya tersusun rencana berikutnya untuk mempermalukan Junn.

     Junn semakin kesal, dan Riri tak kuasa menahannya lagi. “Hentikan semua ini, Alev! Anda sudah keterlaluan!”

     Alev sedikit terkejut. Ia tak menduga Junn ternyata lebih berani dari yang ia bayangkan. Sebentar ia berbisik lagi kepada teman-temannya. Seperti meminta dukungan. Salah satu dari mereka kemudian bersuara, “Kamu yang barusan bicara, silahkan ke depan.”

     Puluhan murid baru gaduh.  Sebagian besar mengomentari, Junn mencari perkara. Sebab, dari tahun ketahun, murid baru yang melawan senior selalu berakhir menyedihkan. Sebagian lain berkomentar ikut prihatin, dan mengharapkan Junn tabah. Ada juga yang mendukung, walaupun hanya dengan berbisik dan tak melakukan apa-apa.

     Junn melangkah ke depan. Matanya menatap lurus, menantang bara-bara silau matahari yang sedari tadi memanggang puluhan orang. Ujung jilbab di punggungnya berkibar, ditiup angin lalu. Seolah alam ingin menyemangatinya, seperti beberapa murid lain. Bahkan tanpa ada yang menyadari, secara sembunyi-sembunyi seseorang yang menutup wajahnya dengan sweater berbisik padanya, “Jangan khawatir, bantuan akan datang. Kau tak akan kenapa-napa.”

     Junn sedikit lega. Kalau telinganya tidak salah, itu suara Kak Zhafif si ketua OSIS. Semangatnya yang tadi sempat layu mendadak mekar lagi. Ia seperti musafir dehidrasi yang disiram air pegunungan. Bila Kak Zhafif yang bicara, maka ia tak perlu ragu. Bantuan akan datang, seperti bantuan yang juga pernah ia terima. Dan tak tahu kenapa, mendadak Junn merasa jantungnya berdebar lebih kencang. Dan perasaanya menjadi hangat.

     Ia telah berdiri. Di hadapan semua orang, dan di hadapan Alev beserta teman-temannya. Alev kelihatan puas, bersiap-siap membalaskan kekesalannya ―yang ia simpan― saat Junn menantangnya di waktu pertemuan pertama mereka, di gerbang sekolah.

     “Nah, sekarang apa?” Alev membentak, dengan kata yang persis sama, yang pernah ditembakkan Junn langsung ke ulu hatinya.
     “Kan tadi sudah kubilang, hentikan semua ini! Lepaskan dia!”
     Alev menyeringai, “Kenapa? Kamu takut melihatnya buka baju?”
     “Apa perlu ditanya lagi?” Jun membelalakkan matanya. Beberapa suara dari penonton meletus, mendukungnya, membuat semangatnya makin mekar. “Memangnya Anda tidak takut melihatnya buka baju? Anda senang? Apa anda homo?”

     Puluhan penonton meledak, tertawa serempak. Perhitungan Alev meleset. Rencananya menggiring Junn kedepan untuk dipermalukan gagal, justru ia yang dipermalukan. Senjata makan tuan.

     Kemarahan Alev memuncak, lalu secara tak sengaja ia mengatakan sesuatu yang tak ia rencanakan sebelumnya, membuat semua suara tawa lenyap, berganti kesunyian yang mencekam dan ketegangan yang tak dapat dielakkan.

     “Kalau begitu gantikan! Kamu yang buka baju, dan Kamu akan buktikan sendiri Aku bukan homo!”

     Kedua lutut Junn lemas. Ia merasa ngeri, bila ternyata apa yang barusan didengarnya benar-benar akan terjadi. Kak Zhafif, mana bantuan yang akan datang itu? Ya Allah, bagaimana ini? Teriak Junn dalam hati.

(Bersambung)

Published on
EDISI RABU, 22 DESEMBER 2010
Terbit dan beredar di Sumatra Barat

December 19, 2010

Dia Sudah Lari!

Hi there!
Puisi ini saya tulis sebagai ungkapan kelegaan saya setelah ujian nih. Udah lama juga tiada menulis puisi, jadi rindu :)
Enjoyed it!

Dia Sudah Lari!


Dalam cekaman gelap...
Dingin di hadapku, mendekap...
Ah, langit mulai sedikit cerah...
Ayo keluar, Ayah...!
Badai sudah mulai pergi...
Dia sudah lari...!


Indahnya bumi, berpayung pelangi...
Busur cahaya melengkung di bawah mentari...
Keremangan cinta menjelas lagi...
Keheningan rindu meribut lagi...
Badai sudah pergi...
Dia sudah lari!


Tiada lagi raga menggigil, takut...
Lega, tanpa setetes pun kalut...
Lihat Ibu! Rumput di sana berkilau!
Bersolek ditimpa cahaya silau...
Lihat Ibu! Badai jauh pergi...
Dia sudah lari!


Ahh... muncul juga cahaya keperakan itu!
Ayo sini, hangatkan lagi aku...
Ahh... Angin sore pun berhembus mesra...
Ayo sini, tiup kesedihan yang tersisa...
Badai semakin jauh pergi...
Dia sudah lari!

December 15, 2010

Badai Telah Berlalu

      "Hufth..."
      Syukurlah, badai yang belakangan ini bertubi-tubi menerpa kediaman saya yang nyaman, telah berakhir kemarin. Ini sungguh melegakan paru-paru saya saudara-saudara, karena Ujian Semester itu sangat menjengkelkan. Dan membosankan —terutama untuk penderita penyakit malas akut stadium 4 seperti saya— dan menyebalkan. Yah, bukan berarti saya tergolong pelajar sinting yang menganggap belajar itu tidak perlu. Tapi percayalah, sepuluh hari bersama buku-buku tebal dengan jutaan huruf serta angka di dalamnya —yang juga harus dihafalkan— bukanlah hal yang menyenangkan.
Photobucket
       But, well... Semuanya toh sudah usai. Sekarang saya tak perlu lagi bersempit-sempit di malam hari, berbagi ranjang dengan buku-buku. Sekarang saatnya menumpuk buku-buku di kolong tempat tidur —atau di bagian belakang lemari— dan mencari kepuasan batin sepuas-puasnya. It's time so having Fun, guys!

       Ahh... akhirnya liburan datang juga. Momen yang paling saya tunggu-tunggu untuk refreshing, dan melakukan segala kegiatan yang tak pernah bisa saya lakukan di hari sekolah. Mari kita lihat... Saya bisa berpetualang... Atau hunting foto... Atau melanjutkan novel —Yang hingga sekarang masih saja gantung— Dan lain-lain. Do I have to make a list of activities during the holidays? #LOL


       Btw saya sekali lagi mohon maaf kepada para tetangga. Karena badai ujian semester kali ini saya jadi tak bisa berkunjung atau membalas kunjungan anda semua. Sejujurnya saya merasa bersalah —Tak bisa menjadi tuan rumah yang baik— dan ramah. wkwk... Tapi sekarang jangan khawatir, saya akan membalas kunjungan anda secepat yang saya bisa :)

Photobucket
     Finally, Para tetangga sekalian. Saya yakin anda sudah tak sabar menunggu ingin bertamu,
benar kan? Nah,
Welcome to my home...!

Wanna a cup of tea...?
Or some biscuits, eh...?

November 25, 2010

I know You're Angry

~By Bussy-Tired-confuse Aul~

( In order to practice my english skill, I wanna fill this post with english :)
[Don't be mad. Because I'm learning english for my future. hehe]

SORRY!
And really really sorry for everyone who are waiting for my new post.
It's gonna be so busy for me. Because some days before semester exam started there are so many tasks to do.
It spend my time, including blogging time!
And that's why I can't post anything this week. And I hope there will no body who wanna give me anger.
Huaa...


I promisse I will post anything more important than this one after my exam.
Don't let me alone without your comment!
LOL

Anyway, I still productive in twitter.
So, it's possible for me to reply your mention. Or if you're not follow me yet,


Follow Me On Twitter

See Ya, My kind neighbors!
You can take your tea and biscuits by your self. because this bussiness make me can serve it to you.
Hehe...
Have a nice day!

November 13, 2010

Si Udin Tembus!


    Pasti ada yang kaget deh, ini judulnya apa-apaan sih? Atau ada yang berkomentar, aneh banget si Udin. Hoho... Well, itu judul cerpen saya yang dimuat di koran Singgalang , koran nasional sumatra barat, edisi Rabu 10 November 2010. Dan sesuai apa yang saya ucapkan dulu, bahwa saya tidak mau mempost cerpen sembarangan, karena takut pembajakan. Nah, berhubung yang satu ini udah tercantum hak miliknya secara resmi, maka dengan senang hati saya bersedia mempublish nya di gubuk reot ini.

You Guys! Cari posisi duduk yang enak. Siapkan minum, cemilan dan sebagainya, Coz this gonna be a long day. Hehe... Met baca ya :)



------------Si Udin Tembus------------

     Si Udin Tembus!
    Tak ada yang menyangka, kedatangannya malam jumat itu ke rumah bang Kasim si juragan togel membawanya kepada kebahagiaan. Empat digit nomor yang dipasangnya malam itu tembus, melahirkan dua puluh juta rupiah.

    Warga kampung baru geger. Selama setengah tahun ini, si Udin terkenal sebagai ‘player’ togel yang dungu. Hampir di setiap pengumuman nomor togel yang tembus, ia mencak-mencak, menghentak-hentakkan kaki kesana-kemari.. Pernah pula ia berteriak-teriak tak karuan, sampai menangis segala. Tak jauh beda dengan orang gila di kaki bukit sana, hanya karena empat digit nomor yang ditebaknya selalu salah. Tak pernah sekalipun ada kemiripan dengan nomor yang tembus. Satu digit pun tidak.

    Tapi, malam itu lain. Empat nomor yang dituliskannya di kertas togel ternyata sama dengan empat nomor yang dibacakan bang Kasim. Awalnya ia ragu, karena yah… Kemenangan bagi seorang pecundang yang selalu kalah itu kadangkala sangat sulit dipercaya, dan sulit diterima logika. Ibarat burung perkutut yang setelah bertahun-tahun akhirnya dilepas dari sangkarnya. Jadi gagu. Antara tak percaya, takjub dan takut. Karena itu, ia sampai memastikan kebenaran pendengarannya berkali-kali.

    “Benar Bang, tiga-satu-kosong-sembilan?”
    “Iya, Din. Kan tadi juga sudah kubilang.” Bang Kasim tersenyum sumringah. Ada sedikit harapan di ubun-ubunnya. Biasanya pelanggannya yang baru pertama kali menang togel akan memberinya bagian. Dan hal itu yang membuatnya betah menjalankan bisnis togel.
    “Periksa lagi lah, Bang. Tiga-satu-kosong-sembilan.”
    Bang Kasim sampai merasa bosan. Kalau bukan karena berharap akan mendapat bagian, sudah dari tadi ia menjotos kepala si Udin. “Iya, tiga-satu-kosong-sembilan.”
    Saat Bang Kasim menyerahkan amplop tebal berisi dua puluh juta, barulah si Udin percaya. Ia menang togel! Dan setelah menyelipkan selembar lima pulur ribuan ke kantong Bang Kasim, ia berlutut di tanah, menghadap langit lalu berteriak, “Aku sudah kaya! Sekarang aku orang kaya!”

    ‘player’ togel lain yang tidak beruntung malam itu hanya bisa memandang iri. Pengumuman pemenang togel yang hanya sebulan sekali dan sudah mereka tunggu-tunggu itu ternyata berakhir sia-sia. Pemenangnya bukan mereka. Harapan untuk kaya mendadak pupus sudah, berganti penyesalan di relung dada. Kenapa mereka mau membuang-buang tujuh puluh lima ribu rupiah hanya untuk membeli kertas togel? Kenapa tidak dibelikan kebutuhan pokok saja?

    Padahal sebagian besar warga kampung baru memilih bertani untuk mencari penghidupan. Beberapa diantaranya malah nekat menjadi buruh pabrik karet, dengan gaji dua puluh delapan ribu seminggu. Itupun sudah kerja keras dari subuh sampai magrib.

    “Brengsek si Udin! Baru lima bulan ikut langsung tembus. Saya sudah setahun lebih ikut belum tembus-tembus!” Pak Suprana mendengus kesal, sambil melempar gulungan kertas berisi nomor yang salah di genggamannya ke tanah..
    “Lah, Pak Sup ini gimana? Orang itu sudah rejeki dia, mana boleh disalah-salahkan?” Mbok Nah yang berjualan gado-gado di samping bandar togel Bang Kasim mengomentari. “Saya ini heran lho, kok Pak Sup mau-maunya beli togel tujuh puluh lima ribu? Buang-buang duit saja.”
    Pak Suprana mendesah, “Yah, namanya juga cari peruntungan, Mbok. Kalau menang kan bisa kaya mendadak. Tak perlu lagi kerja keras. Tak perlu lagi aku mencangkuli sawah orang untuk mencari makan.”
    “Mana buktinya? Katanya sudah setahun lebih ikutan. Nyatanya belum dapat-dapat juga kan? Itu kan sama saja buang-buang duit?”
    Pak Manto yang kebetulan juga gagal dapat togel ikut duduk di warung Mbok Nah, dan angkat suara, “Itu namanya modal, Mbok. Nanti kalau menang, kan modalnya kembali lagi. Berpuluh-puluh kali lipat, malah.”
    “Kalau kalah?”
    “Dalam permainan itu kan biasa ada kalah menang.”
    “Kalau kalah melulu gimana dong?”
    “Yang penting jangan menyerah. Siapa yang tahu kalau dicoba lagi bakal menang?”
    “Kenapa tidak berhenti saja, Pak? Lebih baik duitnya dipakai untuk yang lebih penting,”
    “Tanggung Mbok, sudah terlanjur mengeluarkan modal. Kalau berhenti sekarang tentu rugi besar. Nanti sajalah, kalau sudah menang, baru berhenti.”
    “Iya kalau menang. Kalau sampai mati nggak menang-menang?” Tanya Mbok Nah sengit.
    “Ah, si Mbok ini bisanya mengoceh saja. Sudah, ambilkan saya kopi pahit. Ngutang dulu, besok dibayar.”
    Mbok Nah melangkah ke dapur sambil menggerutu, “Huu, lagaknya mau bayar besok. Utang yang kemarin-kemarin juga belum dibayar,”


     Malam itu, si Udin susah tidur. Amplop coklat berisi duit sembilan belas juta sembilan ratus lima puluh ribu rupiah yang berhasil dimenangkannya tak bisa lepas dari dekapannya. Seolah-olah amplop itu akan hilang, kalau sampai dekapannya terlepas.
    Hmm, mau kubelikan apa duit ini? Pikirnya. Apa kubelikan rumah baru saja, untuk calon istriku nanti? Ah, sayang. Nanti tak ada sisa lagi buat beli yang lain. Apa kubelikan kulkas saja, biar bisa minum es kelapa tiap hari? Ah, nanti aku tak sanggup bayar listriknya. Apa kubelikan mobil saja, biar bisa pergi kemana-mana? Ah, aku belum bisa bawa mobil. Bawa sepeda ontel saja masih sering jatuh. Jadi, harus aku belikan apa duit ini?

    Malam semakin larut. Si Udin masih juga memikirkan akan dibelikan apa duitnya itu. Aku harus mempergunakannya untuk membeli barang yang belum pernah kudapatkan. Aku harus mempergunakannya untuk merasakan hal yang belum pernah kurasakan. Pikirannya berkecamuk.
    Hm, apa kubelikan emas saja? Nanti ditumpuk dirumah. Kalau harganya di pasaran tinggi, aku jual lagi. Bisa lebih banyak duitku.
    Hm, apa kubayarkan pada bandar germo saja? Biar nanti aku bisa bersenang-senang seharian dengan pelacur? Tapi, Ah. Lebih baik jangan. Aku takut dosa.

    Si Udin makin susah tidur. Seumur hidup mungkin inilah kali pertama ia memikirkan suatu hal yang rumit. Biasanya pikirannya tak jauh-jauh dari makan dan tidur. Seperti kucing.
    Udin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apa aku belikan beberapa sepeda motor saja? Nanti bisa kusewakan pada bujang-bujang pengangguran agar dibawa mengojek. Siapa tahu di sana peruntunganku, dapat setoran banyak setiap hari, padahal bukan aku yang kerja.
    Atau apa kubelikan gerobak-gerobak  saja? Nanti bisa kusewakan pada bujang-bujang pengangguran agar dibawa menjajakan mie atau bubur ayam keliling kampung. Siapa tahu di sana peruntunganku, dapat setoran banyak setiap hari, padahal bukan aku yanng kerja.

    Mendadak ia tersenyum sendiri. Bila pikirannya terwujud, tentu ia akan berjasa bagi negara. Karena bantuannya, jumlah pengangguran yang makin menyemut di negara ini bisa berkurang jumlahnya. Jangan-jangan ia akan disalami presiden, karena berjasa meningkatkan perekonomian dengan membuka lapangan kerja untuk para pengangguran.
    Wah kalau benar demikian, tentu ia akan sangat bangga. Jangan-jangan presiden akan memberinya hadiah sebagai ungkapan terima kasih? Barangkali ia akan diberi sebuah mobil mewah? Atau sebuah rumah lengkap dengan kolam renangnya? Gawat, jangan-jangan ia akan diberi jabatan sebagai anggota DPR! Bagaimana ini? Aku kan tak bisa baca tulis? Mendadak Udin panik.

    “SRAKK… SRAKK…”
    Terdengar bunyi dedaunan kering terinjak. Si Udin kaget bukan kepalang. Tubuhnya menguapkan keringat dingin. Suara apa barusan?
    “SRAKK… SRAKK…”
    “TAP… TAP…”
    Udin mempertajam telinganya. Diantara suara daun kering terinjak, samar-samar ia mendengar derap sendal. Suara apa itu? Kalau hantu tidak mungkin. Mana ada hantu punya kaki? Sampai pakai sendal segala?
    Jangan-jangan maling! Pikirnya. Tapi seumur hidup, belum pernah ada orang yang mau maling dirumahnya. Siapa yang mau maling di gubuk reot yang hampir tak berperabotan? Melihat dari jauh saja maling bakal kehilangan selera.

    Udin tersentak. Benar juga, sekarang ia punya sembilan belas juta sembilan ratus lima puluh ribu! Jangan-jangan maling itu tahu bahwa malam ini ia menang togel. Jangan-jangan maling itu mengincar uangnya!
    Terdengar langkah-langkah kaki mendekat. Jangan-jangan maling itu membawa senjata! Pikir Udin panik. Segera ia beranjak ke dapur, mencari apa saja yang bisa dijadikan senjata.
    Satu-satunya yang bisa digunakan hanya pisau kecil yang biasa dipakainya bekerja, untuk membelah jengkol atau pinang di rumah Bu Rurum tetangganya. Mana mungkin maling itu bisa lumpuh dengan pisau ini? Tapi ah, tak ada salahnya dicoba. Paling tidak lumayan untuk melindungi duitku. Pikirnya lagi.

    Sambil berjingkat ia mendekati pintu. Sementara langkah-langkah kaki mulai tak kedengaran lagi. Udin menggenggam gagang pintu reotnya. Saat terdengar suara batuk, dengan cepat ia  membuka pintunya dan mengacungkan pisau dapurnya ke depan dengan tangan kanannya. Tangan kirinya mendekap amplop coklat.

    Seorang lelaki berbaju hitam dan berlilit sarung berdiri di depannya sambil menghembuskan asap rokok. Wajahnya tertutup topeng batman, membuat Udin tak bisa menebak siapa lelaki itu. Tapi ia yakin orang itu adalah orang yang ikut togel di tempat Bang Kasim, tapi tidak menang. Makanya dia mengincar duit togelnya.
    “Siapa kamu?” Tanya Udin dengan suara yang dilantangkan. Siapa tahu lelaki itu gentar mendengarnya.
    “Serahkan amplop itu!” Lelaki bertopeng itu memerintah dengan suara dibesar-besarkan.
    “Langkahi dulu mayatku,” teriak udin sambil menodongkan pisau pembelah jengkolnya, dan bersiap untuk melangkah.
    Tiba-tiba ia ambruk ke depan, lalu terdengar suara tawa dari belakangnya. Rupanya ada yang mengikat kakinya dari belakang.
    “Kurang ajar! Siapa kalian semua, hah!?”
    Lelaki bertopeng tadi menendang kepala Udin, lalu merebut amplop coklat dalam dekapannya. “Kalau kau serahkan dari tadi kan enak. Tak perlu ada kekerasan.”
    Udin menjerit, “Kurang ajar! Kembalikan duitku!”
    Dua orang di belakangnya tertawa terbahak-bahak, meledek. Seakan-akan Udin adalah anak kambing yang terperosok ke dalam comberan. Udin berusaha menoleh ke belakang, mungkin saja ia kenal wajah mereka. Tapi tak bisa, kepalanya terasa ngilu setelah ditendang lelaki bertopeng di hadapannya.
    “Bang, dia minta bagian tuh,” Kata salah seorang diantara mereka.
    Lelaki bertopeng menciumkan amplop coklat itu ke hidup Udin yang mengalirkan darah. “Nah, kau dapat wanginya saja.” Katanya, lalu melangkah pergi.
    Dua orang di belakang Udin kembali tertawa-tawa.
    “Jahanam! Kembalikan duitku!” Teriak Udin. Air matanya mulai mengalir. Ia tak rela duit yang setelah sekian lama akhirnya ia dapatkan pergi begitu saja.
    Udin mencoba berdiri. Aku harus mengambil lagi duitku, pikirnya. Akhirnya ia bisa berdiri, dan mencoba melangkah walaupun sempoyongan.
    “Setan alas! Kembalikan duitku!” Teriaknya lagi.
    Seseorang di belakangnya memegangi kedua tangannya. Kemudian seorang lagi muncul di hadapannya dan memukul wajahnya berkali-kali. Terakhir ia menendang perut Udin, dan mendorongnya hingga tergolek di tanah.
    “Nih, aku langkahi mayatmu,” Kata salah seorang di antara mereka, kemudian ia melangkahi kepala Udin.
    Lantas keduanya tertawa, dan menyusul lelaki bertopeng tadi pergi menjauh.
    Udin menangis. Hilang sudah duitnya sembilan belas juta sembilan ratus lima puluh ribu rupiah. Ditambah lagi, sekarang wajahnya lebam, hidungnya berdarah, lututnya memar, dan perutnya terasa akit sekali.
    Aku tak boleh menyerah. Aku harus mengejar mereka, dan merebut kembali duitku! Aku harus merebut kembali duitku! Batinnya.

    Dengan susah payah Udin mencoba berdiri, dan melangkah. Perlahan-lahan ia mulai bisa berlari, walau sangat lamban dan sempoyongan. Pandangannya semakin kabur, seiring dengan semakin membengkaknya kelopak matanya.
    Udin mempercepat langkahnya. “Dimana kalian? Brengsek, sini kalau berani!” Teriaknya dengan air mata bercucuran.
    “AAAAAAAAA…..” Udin menjerit histeris di langkah terakhirnya. Ia melangkahkan kaki kanannya ke depan, dimana tak ada pijakan selain awang-awang. Ia jatuh, masuk ke jurang.

    “Din. Kalau mau tidur jangan di sini,” Tiba-tiba Udin tersentak, dibangunkan Mbok Nah.
    “App… Aku dimana?” Tanya Udin dengan suara lemah.
    “Di warung saya. Katanya tadi kamu menunggu pengumuman nomor yang tembus,” Ujar Mbok Nah.
    Udin menarik napas dalam-dalam, lega. Ternyata barusan ia hanya bermimpi. Mimpi buruk. Syukurlah, ternyata aku tidak dipukuli. Syukurlah, ternyata aku belum mati. Bisiknya pelan.

    Bang Kasim mucul dari pintu rumahnya. Sebentar ia mengacungkan amplop coklat berisi duit dua puluh juta dengan tangan kanannya.
    “Saudara-saudara sekalian. Sekarang saya akan mengumumkan nomor yang keluar malam ini.” Katanya dengan suara lantang.
    Semua orang menahan nafas, tegang. Dalam masing-masing kepala mereka terbayang mereka membawa pulang amplop seharga dua puluh juta. Beberapa diantaranya malah sibuk komat-kamit mulutnya, berdoa semoga nomor dalam genggamannyalah yang dibacakan bang Kasim.

    “Dasar orang zaman sekarang, pemalas tidak ketulungan. Mencari rezeki kok, dengan jalan yang tidak benar begini. Judi itu kan dosa. Nanti kena azab baru rasa,” Mbok Nah tak tahan berkomentar, meliat gelagat ‘player’ togel di depan warungnya.
    Pak Suprana hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengarnya, sambil menggenggam erat kertas bernomor ditangan kanannya.

    “Dan nomor yang keluar malam ini adalah tiga-satu-kosong-sembilan!” Seru bang Kasim. Disambut keluhan dan desahan-desahan kecewa dari gerombolan di depannya.
    Udin diam saja. Diliriknya kertas bernomor di genggamannya.
    “Nomor siapa itu, Bang?” Pak Manto bertanya.
    “Oh, itu si Udin.” Jawab bang Kasim dengan senyum sumringah. Ada sedikit harapan di ubun-ubunnya. Biasanya pelanggannya yang baru pertama kali menang togel akan memberinya bagian.

    Udin berlutut di tanah, menghadap langit lalu berteriak, “Aku tidak mau kaya! Aku tidak mauuu!!!” Jeritnya sambil menangis tersedu-sedu, lalu semaput tak sadarkan diri.
    Kerumunan orang di sana menatap Udin yang pingsan dengan tatapan heran. Baru pertama kali terjadi di kampung itu, ada orang menang togel sampai pingsan segala. Ada juga yang bersimpati. Kasihan juga, ada orang miskin yang jadi sinting gara-gara mendadak kaya.

    Mbok Nah tak tahan untuk berkomentar lagi, “Lihat, contoh nasib pencari rezeki dengan cara yang salah. Untung cuman pingsan. Coba kalau dia sampai mati melompat ke jurang?”

Padang, 26 September 2010


Bila tetangga atau penunjung berkenan memberikan masukan agar untuk ke depannya lebih baik, silahkan kirim kritik, saran dan masukan anda ke Just_aul@ymail.com
Email terbaik akan di publikasikan dalam file cerpen ini (Yang rencananya dijadikan Ebook dan bisa di download. Tunggu aja tanggal mainnya :) beberapa waktu kemudian.
Oh ya, bila terasa sulit buka email, don't worry! masukin aja komentar nya di kolom komentar postingan ini...
:)

Terima kasih atas bantuannya!!

Dengan secangkir teh dan biskuit,
~ AuL ~

Follow Me On Twitter

November 07, 2010

Kosong

    Apa yang kau lakukan saat kosong? Saat tak ada satupun pikiran yang ada di kepalamu? Saat tak ada seekor ide pun yang berlarian ke sana ke mari di kepalamu? Saat tak ada seekor inspirasi pun yang melayang mengepak-ngepak melintasi benakmu? Saat tak ada satu ekor pun harapan berenang dan menyelami anganmu?
   Saat itu, saat dimana kau tak tahu harus berbuat apa... Saat kekosongan melanda jiwamu, dan ragamu... Saat kau sama sekali kehilangan bayangan tentang "apa yang akan kulakukan setelah ini?" Saat kau merasa seperti telur yang disuruh diam, dan tak bisa memilih harus menetas atau tidak... Saat kau seperti daun kering yang terlepas dari dahan, dan tergeletak begitu saja di tanah... Tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu.... Menunggu seseorang menginjakmu...?
   Aku merasakannya sekarang. Aku kosong, bersama kekosongan. Aku kosong, tanpa apapun yang mencoba mengisi. Seperti botol selai yang tergeletak di gudang. Sendiri dalam kekosongan, berdebu, terabaikan. Anehnya aku menikmati kekosongan ini. Kau percaya?

October 28, 2010

Menanti Pagi

Hi everyone!
How're you all? Fine, eh?
I hope so... :)
Wanna post a poem right now...


Sebuah Puisi berjudul:
Menanti Pagi

 
Bulan sabit murung…
Bintang gemintang bingung…
Malam berlari menyeret janji …
Menjejakkan syahdu, menyepi…
Pohon, rumput dan ujungnya nan berkilau…
Menari dalam hijau…




Cinta putik nan tersembunyi…
Mekar mengantar benang sari…
Cahaya perak tersenyum berserakan…
Di kaki langit nan kemerahan…
Surya nan malu, berselimut…
Rindu-rindu tersaput kabut…


  Disini aku, memeluk kata…
Mencium, menikmati udara…
Dan disini aku, berdiri tanpa kaki...
Menyendiri, menanti pagi…




Alhmd, Puisi ini telah dimuat juga dimuat di koran Singgalang edisi Rabu, 27 oktober 2010. Beredar di Sumatra Barat Dan sekitarnya.

October 23, 2010

'Dangdut Is The Music Of My Country' Dan Awards

Aslm.

Hi everyone! 
     Long time no see! Setelah beberapa hari saya nggak ngepost sesuatu. Nah, sekarang saya mau nge-post artikel yang Alhamdulillah dimuat di koran Singgalang, edisi Rabu, 20 Oktober 2010 kemarin. Judulnya
"Dangdut Is The Music Of My Country".

Dancing cat Pictures, Images and Photos
     Tak bisa disangkal, globalisasi memberikan efek yang sangat kuat bagi bangsa indonesia. Kemajuan teknologi yang begitu pesat di era modern mendukung pengaruh bangsa-bangsa lain mendesak kebudayaan asli nusantara, hingga perlahan mulai langka. Salah satunya adalah musik.
     Saat ini, kita bisa mendengarkan musik dimana saja dan kapan saja. Baik di TV, radio, music player bahkan di handphone. Tanpa kita sadari, musik-musik yang sekarang ini kita dengarkan bukanlah musik dangdut yang merupakan musik asli indonesia. Musik yang populer seperti pop, rock, jazz, hip-hop dan sebagainya ternyata adalah musik-musik yang berasal dari kesenian bangsa lain.

Dancing Kitties Pictures, Images and Photos
     Bisa kita lihat, media massa zaman sekarang sangat canggih. Internet misalnya. Melalui internet, kita bisa mendapatkan lagu-lagu dari berbagai negara di seluruh dunia. Dengan akses yang sangat mudah, kita bisa mendownloadnya secara gratis di ratusan situs yang menyediakannya. Dengan segala kemudahan inilah, akhirnya lagu-lagu dari bangsa lain merajalela, dan lagu-lagu dangdut yang merupakan identitas asli musik indonesia mulai tersingkir.
     Penikmat musik indonesia saat ini, tidak lagi menyukai musik dangdut dengan alasan dangdut sudah kuno dan ketinggalan zaman. Orang yang menyukai dangdut menurut mereka adalah orang-orang yang kolot, yang sudah berumur atau yang telah ubanan. Penikmat musik zaman sekarang yang mayoritas adalah remaja dan anak-anak cenderung lebih memilih musik pop, rock, jazz, hip-hop dan sebagainya dengan alasan lebih modern, lebih gaul dan lebih keren.
     Sebagai warga negara indonesia yang baik, seharusnya kita mencintai apa yang menjadi milik kita sendiri. Dan dewasa ini, perkembangan dangdut sebagai musik asli indonesia boleh dibilang cukup memprihatinkan. Mengingat sudah langkanya dangdut terdengar.
dancing cat Pictures, Images and Photos
     Agaknya, musisi-musisi indonesia juga menyadari kelangkaan dangdut di dunia permusikan indonesia. Mereka yang peduli lantas menyisipkan dangdut dalam lagu-lagu andalan mereka, dengan harapan dangdut akan kembali populer di kalangan pendengarnya. Memang, cara ini cukup baik. Penikmat musik yang mencintai karya-karya idolanya menyukai lagu dengan sisipan dangdut tersebut. Tapi sayangnya cara ini masih kurang ampuh, karena tak bertahan lama. Buktinya, mayoritas penikmat musik kembali beralih saat ada lagu-lagu baru dengan musik yang lebih keren.
     Namun demikian, musik dangdut masih bisa diremajakan kembali keberadaannya. Banyak penggemar dangdut yang mulai memperdengarkan lagu-lagu dangdut dimana-mana. Penyanyi-penyanyi dangdut baru mulai bermunculan, membawakan lagu-lagu dangdut dengan sentuhan modern. Bahkan, hingga saat ini masih ada stasiun televisi swasta yang mempertahankan predikatnya sebagai pelopor musik dangdut dengan menayangkan program-program musik dangdut serta kontes-kontes menyanyi dangdut. Semoga saja, dengan usaha keras musik dangdut sebagai musik asli indonesia bisa terjaga kelestariannya dan tetap berjaya di belantika musik nusantara.

Nah...
Demikianlah artikel yg saya tulis kemarin. Sok tahu banget kan...? (hehe)

Oh ya, dapat award nih, dari Bang Yoga "Gaphe" yang merayakan postingannya yang ke-100. Selamat ya Bang!!
Berhubung nggak ada permintaan di share lagi ke yang lain, jadinya award ini putus di sini aja. Maaf ya! Bagi yang mau, datang aja ke blog beliau, siapa tahu dapet juga:)

See you in the next story!

With a cup of tea and biscuits,
~AuL~

October 17, 2010

The CooL is Back

Aslm.

    Hello... Hello...
(well, beberapa hari ini saya sering nonton Video clip Shinee - Hello  gara-gara di tag sama temen di FB. trus di download. Bagus juga lho!) Hehe...

    Nah, akhirnya ujian Mid semester telah berlalu. Kelegaan tiada tara terasa, di kepala, mata dan dada.
Kepala = Pusing mesti mengingat banyak hal dalam waktu singkat (baca: Saya jarang belajar di rumah)
Mata    = Perih mesti baca belasan buku, LKS dan catatan (walaupun saya suka membaca. Murid sinting yang juga membaca Harry Potter And The Deathly Hallows saat membaca buku2 pelajaran)
Dada    = Sesak, gara-gara di pinggir jalan banyak yang merokok (baca: Nggak ada hubungannya)

Senyuman seorang AuL setelah ujian Mid Semester. Gak heran banyak yang bilang mirip KimBum...
(Tolong jangan muntah... ^_^)


    Sekarang waktunya pamer. Dalam beberapa minggu terakhir dua puisi dan satu cerita lucu saya yang dimuat. Masih di Koran Singgalang, Koran nasional Sumatra Barat. Berikut Screenshoot nya.
 Kepak Sayap Sebelah. Dimuat di edisi Rabu, 29 September 2010
Puisi ini kebetulan sudah pernah dipost di blog. Mau baca? Klik di sini

Diskon. Mungkin detailnya nggak perlu di post.
Dimuat di edisi yang sama dengan puisi di atas.

Simfoni Sendu, Menepis Harap-Harap. Dimuat di edisi Rabu, 15 Oktober 2010.
Puisi ini kebetulan sudah pernah dipost di blog. Mau baca? Klik di sini

    Nah, sekian dulu kebahagiaan dan kesenangan ini saya bagi. Semoga besok akan lebih menyenangkan yah. ngomong-ngomong soal  menyenangkan, ada dua hal yang menyenangkan nih. Pertama, sekarang saya sudah punya official page di Facebook. Yang mau kasih "Like" silahkan berkunjung! Klik Di sini!
Kedua, pas baru Log-in barusan ada pesan dari Death_a. Katanya saya dapat award. Wow! Trims Death_a !!!
Empat orang yang beruntung menerima award ini:
Ami Tokugawa
Keblug
Rizkimufty
Ujib TM

Selamat Yaa...!!
Jangan lupa dibagikan kepada empat teman yang lain. Jangan dimakan sendiri aja... Hehe...
See You In The Next Story...!!

Dengan secangkir teh dan biskuit,
~AuL~

October 09, 2010

Ujian Mid Semester

Hi everyone...

   Ouhh... Hari-hari berikutnya akan semakin sulit... Derita kelas 3 SMA segera dimulai saudara-saudara!
Senin, 11 Oktober 2010. Akan ada sebuah peristiwa yang entah penting atau tidak: Ujian Mid Semester...

Photobucket


    Sebenarnya tak ada yang aneh dengan ujian. Siapa di dunia ini murid sekolah yang belum pernah ikut ujian? Dan sebenarnya juga tak ada yang salah dengan ujian. So, apa yang diributkan? Well, sebenarnya saya juga tak mau ribut. Hanya bentuk pelampiasan tentang bagaimana mengesalkannya Mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian. You know, saat segenap jiwa raga mesti berhadapan dengan tumpukan buku-buku pelajaran...

    Ups! Jangan salah sangka! Saya bukannya anak pemalas yang takut dengan buku pelajaran! Yah, saya hanya murid normal yang kadangkala jenuh dengan segala tetek bengek tentang rumus. Dan lagi kesibukan mempersiapkan diri untuk ujian itu benar-benar menyita waktu. Dan....

Photobucket

    Apa? hoho... anggap saja saya ingin mohon izin kepada para tetangga. Bahwa seminggu ini saya akan sangat jarang blogging. Jadi, jangan marah bila terjadi keterlambatan kunjungan atau membalas komentar. Tapi, bukan berarti tidak akan berkunjung atau membalas komentar kok. Don't worry...

    Nah, sekian dulu jurnal kali ini. It's time to open the book! Mesti belajar buat ujian. Saya harap tetangga-tetangga sekalian mau berbaik hati untuk memaklumi. Terima kasih sudah berkunjung!

Dengan secangkir teh dan biskuit,
~Aul~

October 03, 2010

2nd Anniversary

Aslm.

HORRAY!!!
Tak terasa, sejak dibangun pada 16 September 2008 yang telah lalu, rumah ini telah berkembang...
Dari gubuk kayu jadi halaman di komputer.... Hehe...
Itu artinya, sudah 2 tahun rumah ini menjadi tempat saya bernaung, menggoreskan kata demi kata, menempelkan cerita demi cerita, serta memamerkan waktu-waktu yang dibekukan, hanya untuk pelampiasan nafsu....
Menulis! (Bukan nafsu makan ataupun nafsu minum!)

Nah, kalau ada yang mengajukan pertanyaan, "Katanya peletakan batu pertamanya tanggal 16 september. Kok Anniversary nya baru sekarang?"
Photobucket


Hoho...
Maaf deh, saya sibuk banget teman-teman. Lagi kelas tiga Es-Em-A ini...
Jadwal  syuting, pemotretan dan wawancara belajarnya ya ampun padat banget... Jadinya kalo mau ngeblog nyolong-nyolong waktu... Gak sempat di sempat2kan. JAdinya yha, kalo mau posting sesuatu sering telat...
Maaf ya, semuaa...
Photobucket


Nah, di 2nd Anniversary ini, saya ingin menyampaikan sesuatu kepada semuanya. (Khususnya para followers yang mau menjalin hubungan bertetangga dengan rumah saya ^_<)
Terima kasih banyak, telah bekerja sama dan sama-sama bekerja. Terima kasih atas kunjungan-kunjungannya. Terima kasih atas komentar-komentarnya. Saya tak bisa apa-apa tanpa kalian para tetangga....
Photobucket


Dan untuk itu, sebagai bentuk apresiasi saya kepada followers / tetangga-tetangga saya...
Saya, Aul si bocah 17 yang tengil dan berbau apak, yang mengakui dirinya sebagai manusia normal dan penulis kelas kacang hijau, mempersembahkan AWARDS:





 



Coffee-millk-tea Award





Catatan:
Pada dasarnya, saya memberikan SEMUA award ini kepada para tetangga. Tapi, bagi yang mau satu atau dua saja, boleh memilih kok... Semua tergantung selera masing-masing saja...

Oh ya, dua award emas berbintang lima di atas adalah AWARD KHUSUS YANG HANYA DIANUGERAHKAN KEPADA FOLLOWERS BLOG INI.

Sedangkan Untuk Coffee-Milk-tea award, silahkan teman-teman bagikan kepada 5 sampai 10 blogger lain...

Berikut saya share juga alamat-alamat rumah para tetangga. Bagi yang mau saling berkenalan silahkan^_^:



Terakhir, saya mohon kepada penerima awards agar menyampaikan uneg-uneg seputar rumah ini, yang dirasa ada. Kritik dan saran dari teman-teman semua akan sangat berguna demi masa depan rumah ini. Bisa disampaikan lewat comments form, atau boleh juga ke email saya--> Just_Aul@ymail.com

Terima kasih banyak untuk semuanya...
Saya selaku tuan rumah mengucapkan selamat...
See-Yaa!!

Aslm

September 25, 2010

Dimuat! Fotografi dan Puisi

Aslm...

Duh... senangnya...
Ternyata apa yang "Dad" bilang, bahwa kalo karya kita berhasil tembus koran sekali, maka bakal gampang buat tembus dan tembus lagi...
[Heyy, ini bukan soal tembus pake pembalut lho..!!! BUKAN!]

Nah, jadi untuk minggu ini ada 2 karya saya yang dimuat...
Masih di koran "SINGGALANG", koran nasional Sumatra Barat. Beredar di seumatra barat dan sekitarnya.

Dan karya tersebut diantaranya:

1. Nih dia...
Salah satu foto hasil hunting di suatu sore...
Yang menurut saya lumayan juga dikirim...
Bagi pembaca yang mau lihat foto-foto karya saya yang lain Klik aja di sini...


2. Dan karya selanjutnya berupa puisi religi... (Islam)
Jangan kaget, kalo puisinya itu BIASA BANGET.
Kenapa? Karena saya juga orang biasa Karena puisi tersebut adalah tugas bahasa indonesia yang saya kerjakan dua puluh dua tahun lalu. Waktu baru masuk SMA...
(Sekarang udah kelas XII IPA lho...)
Hoho, jadi maaf kalo saya terlambat membalas komentar2 teman-teman semua...
Maklum mau UN, cuman bisa online2-4 kali seminggu.... :)

screenshot beserta isinya:



 TUHAN
 
Tuhan…
Letih… lelah… Jenuh…
Sombong… pongah… angkuh…
Hamba jenuh untuk acuh…
Namun kenapa angkuh untuk bersimpuh…?


Tuhan…
Amat mudah dosa itu tumbuh…
Kenapa ia sukar untuk rubuh…?
Amat mudah amalan itu keruh…
Kenapa sukar untuk jernih dan kembali utuh…?

Tuhan…
Saat ini… di tempat ini…
Di bumi yang penuh telapak pendosa ini…
 Diri hina ini menyesali setiap tingkah…
Memohon ampun atas setiap perbuatan salah…
 
Tuhan…
Satu hal keinginan hamba-Mu…
Satu hal harapan hamba-Mu…
Satu hal permohonan hamba-Mu…
Ampunan penuh kasih sayang dari–Mu…
 


Nah, sekian dulu...
Aslm...


September 16, 2010

Dimuat! Salah Satu Fiksimini Saya!

Aslm...

Alhmd...
Wah, senang sekali rasanya. Salah satu Fiksimini saya berjudul "Panik", yang sedikit diperpanjang, dan dijadikan dialog pendek: dimuat!
Dimana?? di blog...?

BUKAN!
Di sebuah koran... (Ciee)
HARIAN SINGGALANG
(Terbit dan beredar di seluruh sumatera barat)
Dimuat di rubrik anak sekolahannya...
Nih, ada screenshot nya.
Panik

Suatu hari di dalam kereta jurusan pariaman padang, terjadi sebuah kegaduhan.
Ibu Nani terlihat panik, mengobrak abrik isi tas sandang nya.
Penumpang lain: Mencari apa, bu? tiket?
Ibu Nani               : Bukan! Cincin saya hilang!
Penumpang itu berdecak simpati, lalu memanggil petugas kereta.
Petugas kereta  : Apa yang hilang, bu?
Ibu Nani               : Cincin saya pak! Cincin saya hilang!
Petugas kereta  : Wah, emas berapa gram?
Ibu Nani               : Hmm... saya kurang tahu. Hadiah kuaci sih...!!
Semua orang     : &^E&%#!!*$)#%!!
Nah, nah...
Sekian dulu...
Aslm...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...